Rabu, 14 Maret 2012

Seorang tukang pos ketika dalam perjalanan mengantar sebuah paket, menjatuhkan paket itu sehingga isi paket itu berceceran. Ternyata isi paket itu adalah Alkitab. Ia kemudian mengambil satu Alkitab dan membungkus sisanya lalu mengirim ke penerima. Sang atasan akhirnya tahu bahwa tukang pos ini mencuri satu Alkitab dari laporan penerima paket. Sang atasan yang tahu sebenarnya bawahannya ini adalah pekerja yang baik, bertanya kepadanya," Mengapa kamu mencuri Alkitab itu?" Si tukang pos menjawab,"Saya mengambilnya karena kereligiusan saya."

Belajar dari tukang pos di atas, perasaan religius bukanlah tanda kekudusan. Banyak orang giat berdevosi, rajin ke Gereja atau ke persekutuan-persekutuan doa, serta aktif melayani di Gereja. Secara otomatis kita akan merasakan perasaan religius, yang membuat kita merasa saleh, merasa dekat dengan Tuhan. Tetapi itu bukan tanda bahwa rohani kita sudah baik. Di samping perasaan religius, pengetahuan yang luas terhadap hal-hal rohani, seperti doa dan spiritualitas serta ajaran-ajaran Gereja, tidak juga menandakan kekudusan.

Kekudusan atau rohani yang baik bila rohani kita bertumbuh. Rohani yang bertumbuh bila diri kita senantiasa berubah atau senantiasa bertobat. Sebagian orang pernah bertobat dari dosa-dosa di masa lalu, tetapi bila saat ini ia sudah berhenti bertobat, pertobatannya yang dulu seolah tidak ada gunanya. Rohani kita bertumbuh bila kebaikan kita semakin bertambah. Kita menjadi semakin murah hati, semakin kuat menahan dosa, semakin dalam menjalani hidup doa, kemampuan kita semakin bertambah dalam mengendalikan diri, semakin percaya pada kehendak Tuhan.

Menurut St. Theresia Avila, hidup rohani itu ibarat mendayung perahu menuju hulu melawan arus. Saat kita berhenti mendayung, perahu akan mundur. Hidup rohani tidak mengenal kata berhenti, yang ada hanya maju atau mundur. Hidup kudus itu bukan tidak berbuat dosa sama sekali, tetapi bertobat terus menerus. Tak peduli seorang pemula yang baru saja menjalani hidup rohani. Setiap orang bertumbuh setahap demi setahap. Yang penting dalam hidup rohani adalah kita selalu bertumbuh, berubah terus dan bertobat terus menerus. Tetapi kita perlu bijak juga, kekudusan tidak dapat dicapai dalam waktu singkat. Berusaha terlalu keras untuk menjadi kudus dalam waktu singkat, bila kita jatuh, kita akan menjadi sulit untuk bangkit kembali.
salam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar