Rabu, 14 Maret 2012

MERUBAH KEHILANGAN MENJADI KELEPASAN YANG PENUH RAHMAT
By: Fr. Laurence Freeman OSB

Menyadari bahwa anda benar-benar telah kehilangan sesuatu membuat shock seluruh sistem anda, saat duka bercampur dengan kemarahan dan kebingungan. Sesuatu yang hilang bisa jadi kunci mobil atau seseorang yang anda kasihi; intensitas dan jangka waktu shock itu berbeda-beda tetapi penolakan langsung atas kehilangan sesuatu yang kita (kira) miliki itu terbentuk dalam psikis kita.

Tetapi menemukan sesuatu yang telah hilang akan memenuhi kita dengan suka cita dan syukur pada tingkat yang lebih tinggi. Milik yang kita kira telah hilang, kita temukan kembali seperti "sebuah karunia" dan setiap saat, kita mengalami pemberian (dari atau kepada diri kita), kita menjadi lebih hidup, lebih murah hati dan lebih menjadidiri kita sendiri. Bagaimanapun juga hidup mengajar kita kebenaran akan penemuan dan kehilangan ini. Tetapi kita dapat menerapkan kebenaran dan pada tingkat tertentu dapat mengantisipasi rasa sakit dan shock atas kehilangan tersebut. Lebih jauh lagi disebut melepaskan. Jika kita lebih melekat dan lebih merasa memiliki maka rasa sakit atas kehilangan tersebut lebih
parah. Melepaskan adalah semacam kerelaan untuk hilang - suatu paradox yang
mengubah kehilangan menjadi penemuan.

Prapaskah - dan disiplin pengendalian diri sederhana apapun yang kita jalankan selama 40 hari mendatang - mengajar kita cara untuk melepaskan setiap saat, dengan setiap tarikan napas, setiap perjumpaan, dalam setiap relasi. St. Benediktus berkata bahwa berdasakan
disiplin pengendalian diri, hidup seharusnya menjadi masa prapaskah yang
berkesinambungan. Masa prapaskah memberi kita kekuatan untuk hidup dengan
kebebasan dan spontanitas dan yang terutama ketidak takutan yang membuat kepenuhan kemanusiaan kita berbuah. Kita cukup hanya percaya dan melambung. "Siapa saja yang ingin menyelamatkan nyawanya akan kehilangan nyawanya." Kita melakukannya secara bertahap - pergeseran arah yang lembut yang direalisasikan oleh latihan harian meditasi kita.

Dikutip dari KOMUNITAS MEDITASI KRISTIANI SURABAYA

SALAM.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar