Rabu, 14 Maret 2012

KATOLIKISME DAN KESELAMATAN KEKAL

Keselamatan kekal adalah sebuah keadaan yang sudah selesai di masa lampau pada saat seseorang menerima Kristus maka dia telah selamat, tidak mungkin, dengan segala daya manusiawinya, dia menjadikan dirinya tidak selamat. Kepercayaan “Keselamatan Kekal” ini dinamakan Calvinisme di dalam ajaran Protestan. Sebenarnya ajaran tersebut juga diajarkan oleh Marthin Luther, bapa Protestantisme. Beliau mengajarkan bahwa manusia diselamatkan oleh iman saja (sola fide), terpisah dari perbuatan. Menurut Luther, setelah seseorang menerima Yesus, maka tidak perduli apa pun yang dilakukannya, apakah itu membunuh atau berzinah beribu-ribu kali sehari, ia pasti akan tetap masuk surga. Dalam suratnya kepada muridnya, Melancthon, tertanggal 1 Agustus 1521, Luther mengatakan, “.....Be a sinner, and let your sins be strong, but let your trust be in Christ be stronger...no sin can separate us from Him, even if we were to kill or commit adultery thousand of time each day....”

Bila seorang Katolik ditanyakan,”Apakah anda percaya anda selamat?”, maka orang Katolik tersebut tidak bisa menjawab dengan pasti “Ya”. Mengapa? Karena seorang Katolik harus rendah hati agar dapat berjalan di jalan yang benar dan mencapai tujuan keagamaan yang dicarinya. Dengan kata lain, keberhasilan dalam hidup rohaninya tidaklah terjamin. “Sekali selamat tetap selamat” sudah menganggap bahwa keselamatan itu adalah suatu kejadian yang sudah terjadi pada suatu waktu di masa lampau.Bagi Katolikisme itu kedengarannya terlalu mempermudah masalah.

Mari kita lihat sebuah contoh dari Perjanjian Lama. Raja Daud, raja Israel yang kedua, berzinah dan membunuh, dan mereka yang percaya dengan keselamatan kekal mengatakan bahwa “Raja Daud hanya kehilangan sukacita keselamatannya saja karena telah berzinah dengan Batsyeba dan membunuh suami Batsyeba, Uria. Dalam Mazmur 51:12 dia hanya berdoa memohon untuk mendapatkan kembali sukacita keselamatannya. Dan lagi, Daud adalahseorang kesenangan hati Allah dan menulis salah satu bagian dari Kitab Suci. Jelas, dia selamat?”

Mengatakan bahwa Raja Daud tidak kehilangan keselamatannya karena dosa-dosa perzinahan dan pembunuhan adalah menyangkal Kitab Suci .” Atau tidak tahukah kamu, bahwa orang-orang yang tidak adil tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah ? Janganlah sesat! Orang cabul, penyembah berhala, orang berzinah, banci, orang pemburit, pencuri, orang kikir, pemabuk, pemfitnah dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah”,1 Korintus 6:9,10 dan “Tetapi orang-orang penakut, orang-orang yang tidak percaya , orang-orang keji, orang-orang pembunuh, orang-orang sundal, tukang-tukang sihir, penyembah-penyembah berhala dan semua pendusta, mereka akan mendapat bagian mereka di dalam lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang; inilah kematian yang kedua,”Wahyu 21:8. Hanya karena Raja Daud berdoa agar kegirangan keselamatannya dipulihkan tidak berarti bahwa ayat-ayat terdahulu (1 Kor.6:9,10 dan Wahyu 21:8) di atas tidak berlaku.

Bagi seorang Katolik, dengan berpegang teguh kepada keseluruhan ajaran Kitab Suci, percaya atau iman tersebut adalah sebuah proses: yang telah, sedang dan yang akan datang.Terhadap pertanyaan apakah anda sudah selamat, seorang Katolik akan menjawab demikian,” Saya telah diselamatkan, saya sedang dalam proses diselamatkan dan pada akhirnya, saya akan diselamatkan.”

Mari kita kembali kepada kisah Raja Daud. Apakah selama kurang lebih sembilan bulan atau lebih lama Raja Daud telah memenuhi definisi Kitab Suci sebagai seorang “penzinah” atau “pembunuh”?Untuk menjawab pertanyaan ini, kita harus mempertimbangkan berapa banyak kalikah seseorang itu harus membunuh atau berzinah sebelum dia dianggap sebagai “pembunuh” atau “penzinah”, menurut Kitab Suci? Lagi, menurut Kitab Suci, apakah jawabannya? Imamat 20:10 menyatakan, “Bila seorang laki-laki berzinah dengan isteri orang lain, yakni berzinah dengan isteri sesamanya manusia, pastilah keduanya dihukum mati, baik laki-laki maupun perempuan yang berzinah itu.” Jadi, menurut Kitab Suci, satu kali saja seorang itu melakukan perbuatan zinah menjadikan dia seorang “penzinah”. Di dalam Kitab Bilangan 35:16-18, identitas seorang pembunuh dinyatakan, “Tetapi jika ia membunuh orang itu dengan benda besi, sehingga orang itu mati, maka ia seorang pembunuh; pastilah pembunuh itu dibunuh. Dan jika ia membunuh orang itu dengan batu di tangan yang mungkin menyebabkan matinya seseorang, sehingga orang itu mati, maka ia seorang pembunuh; pastilah pembunuh itu dibunuh. Atau jika ia membunuh orang itu dengan benda kayu di tangan yang mungkin menyebabkan matinya seseorang, sehingga orang itu mati, maka ia seorang pembunuh; pastilah pembunuh itu dibunuh.” Seperti dengan penzinah, satu tindakan pembunuhan telah menjadikan seseorang itu pembunuh juga di hadapan Allah. Tidak perlu seseorang itu melakukan dua atau dua puluh lima kali perzinahan atau pembunuhan sebelum dia dinyatakan sebagai seorang pembunuh atau penzinah. Mengenai pembunuhan, kita melihat di dalam Perjanjian Baru, 1 Yohanes 3:15, “Setiap orang yang membenci saudaranya, adalah seorang pembunuh manusia. Dan kamu tahu, bahwa tidak ada seorang pembunuh yang tetap memiliki hidup yang kekal di dalam dirinya”.

Menurut Kitab Suci, ketika Raja Daud berdosa dengan melakukan perzinahan dan pembunuhan, dia tidak memiliki hidup kekal di dalam dirinya, dengan kata lain dia kehilangan keselamatannya, bukan sekedar kehilangan sukacita keselamatan. Sekarang marilah kitamelihat diri kita. Sebagai seorang Katolik, kita harus bertahan sampai akhir. Jika kita yang telah menerima sakramen-sakramen Katolik lengkap tetapi tidak hidup dalam suatu hubungan yang intim dengan Tuhan, maka keselamatan kita perlu diragukan.Tuhan tidak akan pernah melabrak kebebasan kehendak bebas kita.Selama kita masih hidup di dalam daging (sebagai manusia), kita memiliki kemungkinan menolak Allah. Rasul Paulus menulis mengapa dia berjuang begitu keras di dalam kehidupan rohaninya, “ Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul. Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.”(1 Korintus 9:26-27). Dengan kata lain, St.Paulus mengerjakan keselamatannya untuk memperoleh apa yang sekian lama didambakannya.

Kita tidak meragukan kuasa Allah untuk memelihara semua orang yang datang untuk beroleh keselamatan dari-Nya, tetapi Dia tidak akan mempertahankan mereka melawan kehendak mereka sendiri. Keselamatan haruslah merupakan hubungan yang bebas, jika tidak maka ia bukan hubungan sama sekali. Karena itu, orang-orang Katolik harus tetap waspada jangan sampai ia jatuh dari kasih karunia Allah yang sebegitu besar.Markus 13:13,” Kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku. Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya ia akan selamat." Ada tersedia keselamatan bagi dia yang bertahan sampai akhir, tetapi kita tidak dapat mengatakan kapankah perlombaan itu akan berakhir.

Doktrin “keselamatan kekal”- “sekali selamat tetap selamat” bukanlah pengajaran Kristus.Sebaliknya, Kristus mengajarkan agar orang-orang saleh bertahan sampai kesudahannya melalui kekuatan dan kasih karunia Allah. Mereka yang berada di dalam Kristus tidak kebal dari kemungkinan murtad dari Allah.Dosa memiliki daya tarik yang dapat menyebabkan hati menjadi keras dan akhirnya murtad. Keselamatan dengan Kristus adalah milik mereka yang bertahan sampai akhir.

(Akan diterbitkan dalam buletin KOMUNIO, buletin Keuskupan Agung Palembang bulan depan)

Dikutip dari akun Bp. Jerry.

salam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar