KATOLIKISME DAN KESELAMATAN KEKAL
Keselamatan kekal adalah sebuah keadaan yang sudah selesai di masa
lampau pada saat seseorang menerima Kristus maka dia telah selamat,
tidak mungkin, dengan segala daya manusiawinya, dia menjadikan dirinya
tidak selamat. Kepercayaan “Keselamatan Kekal” ini dinamakan Calvinisme
di dalam ajaran Protestan. Sebenarnya ajaran tersebut juga diajarkan
oleh Marthin Luther, bapa Protestantisme. Beliau mengajarkan bahwa
manusia diselamatkan oleh iman saja (sola fide), terpisah dari
perbuatan. Menurut Luther, setelah seseorang menerima Yesus, maka tidak
perduli apa pun yang dilakukannya, apakah itu membunuh atau berzinah
beribu-ribu kali sehari, ia pasti akan tetap masuk surga. Dalam suratnya
kepada muridnya, Melancthon, tertanggal 1 Agustus 1521, Luther
mengatakan, “.....Be a sinner, and let your sins be strong, but let your
trust be in Christ be stronger...no sin can separate us from Him, even
if we were to kill or commit adultery thousand of time each day....”
Bila seorang Katolik ditanyakan,”Apakah anda percaya anda selamat?”,
maka orang Katolik tersebut tidak bisa menjawab dengan pasti “Ya”.
Mengapa? Karena seorang Katolik harus rendah hati agar dapat berjalan di
jalan yang benar dan mencapai tujuan keagamaan yang dicarinya. Dengan
kata lain, keberhasilan dalam hidup rohaninya tidaklah terjamin. “Sekali
selamat tetap selamat” sudah menganggap bahwa keselamatan itu adalah
suatu kejadian yang sudah terjadi pada suatu waktu di masa lampau.Bagi
Katolikisme itu kedengarannya terlalu mempermudah masalah.
Mari
kita lihat sebuah contoh dari Perjanjian Lama. Raja Daud, raja Israel
yang kedua, berzinah dan membunuh, dan mereka yang percaya dengan
keselamatan kekal mengatakan bahwa “Raja Daud hanya kehilangan sukacita
keselamatannya saja karena telah berzinah dengan Batsyeba dan membunuh
suami Batsyeba, Uria. Dalam Mazmur 51:12 dia hanya berdoa memohon untuk
mendapatkan kembali sukacita keselamatannya. Dan lagi, Daud
adalahseorang kesenangan hati Allah dan menulis salah satu bagian dari
Kitab Suci. Jelas, dia selamat?”
Mengatakan bahwa Raja Daud
tidak kehilangan keselamatannya karena dosa-dosa perzinahan dan
pembunuhan adalah menyangkal Kitab Suci .” Atau tidak tahukah kamu,
bahwa orang-orang yang tidak adil tidak akan mendapat bagian dalam
Kerajaan Allah ? Janganlah sesat! Orang cabul, penyembah berhala, orang
berzinah, banci, orang pemburit, pencuri, orang kikir, pemabuk,
pemfitnah dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah”,1
Korintus 6:9,10 dan “Tetapi orang-orang penakut, orang-orang yang tidak
percaya , orang-orang keji, orang-orang pembunuh, orang-orang sundal,
tukang-tukang sihir, penyembah-penyembah berhala dan semua pendusta,
mereka akan mendapat bagian mereka di dalam lautan yang menyala-nyala
oleh api dan belerang; inilah kematian yang kedua,”Wahyu 21:8. Hanya
karena Raja Daud berdoa agar kegirangan keselamatannya dipulihkan tidak
berarti bahwa ayat-ayat terdahulu (1 Kor.6:9,10 dan Wahyu 21:8) di atas
tidak berlaku.
Bagi seorang Katolik, dengan berpegang teguh
kepada keseluruhan ajaran Kitab Suci, percaya atau iman tersebut adalah
sebuah proses: yang telah, sedang dan yang akan datang.Terhadap
pertanyaan apakah anda sudah selamat, seorang Katolik akan menjawab
demikian,” Saya telah diselamatkan, saya sedang dalam proses
diselamatkan dan pada akhirnya, saya akan diselamatkan.”
Mari
kita kembali kepada kisah Raja Daud. Apakah selama kurang lebih sembilan
bulan atau lebih lama Raja Daud telah memenuhi definisi Kitab Suci
sebagai seorang “penzinah” atau “pembunuh”?Untuk menjawab pertanyaan
ini, kita harus mempertimbangkan berapa banyak kalikah seseorang itu
harus membunuh atau berzinah sebelum dia dianggap sebagai “pembunuh”
atau “penzinah”, menurut Kitab Suci? Lagi, menurut Kitab Suci, apakah
jawabannya? Imamat 20:10 menyatakan, “Bila seorang laki-laki berzinah
dengan isteri orang lain, yakni berzinah dengan isteri sesamanya
manusia, pastilah keduanya dihukum mati, baik laki-laki maupun perempuan
yang berzinah itu.” Jadi, menurut Kitab Suci, satu kali saja seorang
itu melakukan perbuatan zinah menjadikan dia seorang “penzinah”. Di
dalam Kitab Bilangan 35:16-18, identitas seorang pembunuh dinyatakan,
“Tetapi jika ia membunuh orang itu dengan benda besi, sehingga orang itu
mati, maka ia seorang pembunuh; pastilah pembunuh itu dibunuh. Dan jika
ia membunuh orang itu dengan batu di tangan yang mungkin menyebabkan
matinya seseorang, sehingga orang itu mati, maka ia seorang pembunuh;
pastilah pembunuh itu dibunuh. Atau jika ia membunuh orang itu dengan
benda kayu di tangan yang mungkin menyebabkan matinya seseorang,
sehingga orang itu mati, maka ia seorang pembunuh; pastilah pembunuh itu
dibunuh.” Seperti dengan penzinah, satu tindakan pembunuhan telah
menjadikan seseorang itu pembunuh juga di hadapan Allah. Tidak perlu
seseorang itu melakukan dua atau dua puluh lima kali perzinahan atau
pembunuhan sebelum dia dinyatakan sebagai seorang pembunuh atau
penzinah. Mengenai pembunuhan, kita melihat di dalam Perjanjian Baru, 1
Yohanes 3:15, “Setiap orang yang membenci saudaranya, adalah seorang
pembunuh manusia. Dan kamu tahu, bahwa tidak ada seorang pembunuh yang
tetap memiliki hidup yang kekal di dalam dirinya”.
Menurut
Kitab Suci, ketika Raja Daud berdosa dengan melakukan perzinahan dan
pembunuhan, dia tidak memiliki hidup kekal di dalam dirinya, dengan kata
lain dia kehilangan keselamatannya, bukan sekedar kehilangan sukacita
keselamatan. Sekarang marilah kitamelihat diri kita. Sebagai seorang
Katolik, kita harus bertahan sampai akhir. Jika kita yang telah menerima
sakramen-sakramen Katolik lengkap tetapi tidak hidup dalam suatu
hubungan yang intim dengan Tuhan, maka keselamatan kita perlu
diragukan.Tuhan tidak akan pernah melabrak kebebasan kehendak bebas
kita.Selama kita masih hidup di dalam daging (sebagai manusia), kita
memiliki kemungkinan menolak Allah. Rasul Paulus menulis mengapa dia
berjuang begitu keras di dalam kehidupan rohaninya, “ Sebab itu aku
tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja
memukul. Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya
sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri
ditolak.”(1 Korintus 9:26-27). Dengan kata lain, St.Paulus mengerjakan
keselamatannya untuk memperoleh apa yang sekian lama didambakannya.
Kita tidak meragukan kuasa Allah untuk memelihara semua orang yang
datang untuk beroleh keselamatan dari-Nya, tetapi Dia tidak akan
mempertahankan mereka melawan kehendak mereka sendiri. Keselamatan
haruslah merupakan hubungan yang bebas, jika tidak maka ia bukan
hubungan sama sekali. Karena itu, orang-orang Katolik harus tetap
waspada jangan sampai ia jatuh dari kasih karunia Allah yang sebegitu
besar.Markus 13:13,” Kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku.
Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya ia akan selamat."
Ada tersedia keselamatan bagi dia yang bertahan sampai akhir, tetapi
kita tidak dapat mengatakan kapankah perlombaan itu akan berakhir.
Doktrin “keselamatan kekal”- “sekali selamat tetap selamat” bukanlah
pengajaran Kristus.Sebaliknya, Kristus mengajarkan agar orang-orang
saleh bertahan sampai kesudahannya melalui kekuatan dan kasih karunia
Allah. Mereka yang berada di dalam Kristus tidak kebal dari kemungkinan
murtad dari Allah.Dosa memiliki daya tarik yang dapat menyebabkan hati
menjadi keras dan akhirnya murtad. Keselamatan dengan Kristus adalah
milik mereka yang bertahan sampai akhir.
(Akan diterbitkan dalam buletin KOMUNIO, buletin Keuskupan Agung Palembang bulan depan)
Dikutip dari akun Bp. Jerry.
salam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar