Apakah
benar bahwa Ul 18:15.18 adalah ramalan tentang Muhammad? Apakah ada
ramalan lain tentang kedatangan Muhammad dalam Kitab Suci kita?
Yulia Henny, Pasuruan
Pertama, Ul 18:15 berbunyi: “Seorang nabi dari tengah-tengahmu, dari
antara saudara-saudaramu, sama seperti aku, akan dibangkitkan bagimu
oleh TUHAN, Allahmu; dialah yang harus kamu dengarkan.” Sedangkan ayat
18 berbunyi: “Seorang nabi akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara
saudara mereka, seperti engkau ini; Aku akan menaruh firman-Ku dalam
mulutnya, dan dia akan mengatakan kepada mereka segala yang
Kuperintahkan kepadanya.”
Dalam kedua ayat di atas terdapat
kata “saudara” yang oleh kaum Muslim ditafsirkan sebagai: mencakup juga
bangsa Arab, keturunan Ismael, yang adalah saudara bangsa Israel sebagai
keturunan Ishak (bdk Kej 21:10-11.13). Karena itu, menurut beberapa
kaum Muslim, kedua ayat tersebut meramalkan kedatangan Muhammad.
Kedua, penafsiran Muslim di atas tidak bisa diterima karena kata
”saudara” pada umumnya merujuk pada kaum keluarga yang dekat. Karena
kedua ayat itu dikatakan kepada suku-suku keturunan Yakob, Israel, maka
kata ”saudara” sepantasnya merujuk kepada kaum kerabat keturunan Yakob.
Bagi keturunan Yakob, keturunan Ismael sudah dipandang sebagai orang
asing, bukan lagi sebagai ”saudara”. Ul 17:15 yang juga mengandung
ungkapan ”saudara-saudaramu” menunjukkan penafsiran ini, yaitu bahwa
ungkapan ”saudara” hanya ditafsirkan sebatas di antara suku-suku Israel,
keturunan Yakob, tidak melampaui batas Israel.
Ketiga,
penafsiran kristiani ini bersumber dari penafsiran Perjanjian Baru
sendiri, yaitu bahwa kedua ayat tersebut terpenuhi dalam diri Yesus
Kristus. Ul 18:15: ”Dialah yang harus Engkau dengarkan!” tergema dalam
Mat 17:5: ”dengarkanlah Dia.” Nabi yang akan datang itu tak lain ialah
Yesus Kristus (bdk Yoh 5:46).
Keempat, ada sementara orang
Muslim yang menafsirkan janji Yesus akan Roh Kudus (Yoh 14:16.26; 15:26;
16:7.13) itu sebagai janji akan kedatangan Muhammad (bdk HIDUP, No 16,
20 April 2008). Kesalahtafsiran ini sangat mungkin disebabkan oleh
ketidakmengertian akan bahasa Yunani, yaitu menyamakan antara parakletos
(penghibur) dengan periklytos (yang terpuji) yang bunyinya hampir sama.
Perlu diketahui bahwa nama Muhammad berarti “yang terpuji” atau
periklytos dalam bahasa Yunani.
Janji Yesus akan penghibur atau
pendamping tidak mungkin diartikan sebagai Muhammad, karena Muhammad
datang sesudah 600 tahun. Jadi, tidak mungkin bisa menjadi penghibur
atau pendamping komunitas para rasul. Tidak masuk akal bahwa janji Yesus
baru terpenuhi 600 tahun kemudian. Lebih tepat janji Yesus itu ialah
Roh Kudus yang turun atas para rasul 10 hari sesudah kenaikan Yesus ke
surga.
Demikian pula, apakah kaum Muslim akan bisa mengakui
bahwa Parakletos (kalau diartikan sebagai Muhammad) ini dikirim oleh
Kristus (Yoh 15:26; 16:7)? Apakah kaum Muslim akan menerima tugas
Parakletos sebagai tugas Muhammad? Yaitu, bahwa pekerjaan Parakletos ini
ialah “memimpin ke dalam seluruh kebenaran” seperti yang sudah
diajarkan Yesus Kristus. Dia akan “memuliakan” Kristus karena Dia akan
memberitakan kepada umat apa yang diterimanya daripada Kristus (Yoh
16:13-15). Parakletos menerima semuanya dari Kristus dan memberitakan
hal itu kepada para murid. Parakletos tidak akan memuliakan dirinya
sendiri.
Tambahan lagi, pekerjaan yang dilakukan Parakletos
berada pada tataran batiniah, yaitu ”menginsyafkan dunia akan dosa,
kebenaran, dan penghakiman” (Yoh 16:9). Pekerjaan Parakletos yang
demikian ini tentu tidak sesuai dengan kenyataan apa yang dilakukan
Muhammad. Dalam Perjanjian Baru sama sekali tidak dikatakan bahwa
pekerjaan Parakletos adalah memimpin perang dengan senjata duniawi dan
memperoleh kemenangan sosiopolitis. Pekerjaan yang demikian itu sama
sekali asing bagi Parakletos.
Jadi, kita bisa menyimpulkan
bahwa Parakletos yang dijanjikan Yesus pasti bukan Muhammad. Kemiripan
bunyi antara parakletos dan periklytos sama sekali tidak didukung data
lainnya, agar janji Yesus akan Parakletos bisa diartikan sebagai janji
akan kedatangan Muhammad.
Dr Petrus Maria Handoko CM
Sumber: Majalah Hidup.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar