Rabu, 14 Maret 2012

Apakah benar bahwa Ul 18:15.18 adalah ramalan tentang Muhammad? Apakah ada ramalan lain tentang kedatangan Muhammad dalam Kitab Suci kita?

Yulia Henny, Pasuruan

Pertama, Ul 18:15 berbunyi: “Seorang nabi dari tengah-tengahmu, dari antara saudara-saudaramu, sama seperti aku, akan dibangkitkan bagimu oleh TUHAN, Allahmu; dialah yang harus kamu dengarkan.” Sedangkan ayat 18 berbunyi: “Seorang nabi akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara saudara mereka, seperti engkau ini; Aku akan menaruh firman-Ku dalam mulutnya, dan dia akan mengatakan kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadanya.”

Dalam kedua ayat di atas terdapat kata “saudara” yang oleh kaum Muslim ditafsirkan sebagai: mencakup juga bangsa Arab, keturunan Ismael, yang adalah saudara bangsa Israel sebagai keturunan Ishak (bdk Kej 21:10-11.13). Karena itu, menurut beberapa kaum Muslim, kedua ayat tersebut meramalkan kedatangan Muhammad.

Kedua, penafsiran Muslim di atas tidak bisa diterima karena kata ”saudara” pada umumnya merujuk pada kaum keluarga yang dekat. Karena kedua ayat itu dikatakan kepada suku-suku keturunan Yakob, Israel, maka kata ”saudara” sepantasnya merujuk kepada kaum kerabat keturunan Yakob. Bagi keturunan Yakob, keturunan Ismael sudah dipandang sebagai orang asing, bukan lagi sebagai ”saudara”. Ul 17:15 yang juga mengandung ungkapan ”saudara-saudaramu” menunjukkan penafsiran ini, yaitu bahwa ungkapan ”saudara” hanya ditafsirkan sebatas di antara suku-suku Israel, keturunan Yakob, tidak melampaui batas Israel.

Ketiga, penafsiran kristiani ini bersumber dari penafsiran Perjanjian Baru sendiri, yaitu bahwa kedua ayat tersebut terpenuhi dalam diri Yesus Kristus. Ul 18:15: ”Dialah yang harus Engkau dengarkan!” tergema dalam Mat 17:5: ”dengarkanlah Dia.” Nabi yang akan datang itu tak lain ialah Yesus Kristus (bdk Yoh 5:46).

Keempat, ada sementara orang Muslim yang menafsirkan janji Yesus akan Roh Kudus (Yoh 14:16.26; 15:26; 16:7.13) itu sebagai janji akan kedatangan Muhammad (bdk HIDUP, No 16, 20 April 2008). Kesalahtafsiran ini sangat mungkin disebabkan oleh ketidakmengertian akan bahasa Yunani, yaitu menyamakan antara parakletos (penghibur) dengan periklytos (yang terpuji) yang bunyinya hampir sama. Perlu diketahui bahwa nama Muhammad berarti “yang terpuji” atau periklytos dalam bahasa Yunani.

Janji Yesus akan penghibur atau pendamping tidak mungkin diartikan sebagai Muhammad, karena Muhammad datang sesudah 600 tahun. Jadi, tidak mungkin bisa menjadi penghibur atau pendamping komunitas para rasul. Tidak masuk akal bahwa janji Yesus baru terpenuhi 600 tahun kemudian. Lebih tepat janji Yesus itu ialah Roh Kudus yang turun atas para rasul 10 hari sesudah kenaikan Yesus ke surga.

Demikian pula, apakah kaum Muslim akan bisa mengakui bahwa Parakletos (kalau diartikan sebagai Muhammad) ini dikirim oleh Kristus (Yoh 15:26; 16:7)? Apakah kaum Muslim akan menerima tugas Parakletos sebagai tugas Muhammad? Yaitu, bahwa pekerjaan Parakletos ini ialah “memimpin ke dalam seluruh kebenaran” seperti yang sudah diajarkan Yesus Kristus. Dia akan “memuliakan” Kristus karena Dia akan memberitakan kepada umat apa yang diterimanya daripada Kristus (Yoh 16:13-15). Parakletos menerima semuanya dari Kristus dan memberitakan hal itu kepada para murid. Parakletos tidak akan memuliakan dirinya sendiri.

Tambahan lagi, pekerjaan yang dilakukan Parakletos berada pada tataran batiniah, yaitu ”menginsyafkan dunia akan dosa, kebenaran, dan penghakiman” (Yoh 16:9). Pekerjaan Parakletos yang demikian ini tentu tidak sesuai dengan kenyataan apa yang dilakukan Muhammad. Dalam Perjanjian Baru sama sekali tidak dikatakan bahwa pekerjaan Parakletos adalah memimpin perang dengan senjata duniawi dan memperoleh kemenangan sosiopolitis. Pekerjaan yang demikian itu sama sekali asing bagi Parakletos.

Jadi, kita bisa menyimpulkan bahwa Parakletos yang dijanjikan Yesus pasti bukan Muhammad. Kemiripan bunyi antara parakletos dan periklytos sama sekali tidak didukung data lainnya, agar janji Yesus akan Parakletos bisa diartikan sebagai janji akan kedatangan Muhammad.

Dr Petrus Maria Handoko CM
Sumber: Majalah Hidup.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar