Allah saja cukup, sebuah kutipan kata-kata St. Theresia Avila. Segala sesuatu dimiliki hanya demi Allah. Blog ini bernuansa Katolik, Karmelit dan Karismatik yang berusaha mengajak kita mengenal Allah lewat pengalaman iman dan ajaran Gereja Katolik dan mengalami Allah lewat keheningan dan karisma Roh Kudus.
Jumat, 16 Maret 2012
KGK 662. "Dan Aku, apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepada-Ku" (Yoh 12:32). Ditinggikan pada salib berarti pula ditinggikan waktu kenaikan ke surga dan peninggian pada salib sekaligus memaklumkan kenaikan ke surga itu. Itulah permulaannya. Yesus Kristus, Imam tunggal perjanjian baru dan abadi, "bukan masuk ke dalam tempat kudus buatan tangan manusia... tetapi ke dalam surga sendiri untuk menghadap hadirat Allah guna kepentingan kita" (Ibr 9:24). Dalam surga Kristus melaksanakan imamat-Nya secara terus-menerus. "Karena itu Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang oleh Dia datang kepada Allah. Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi pengantara mereka" (Ibr 7:25). Sebagai "imam besar untuk hal-hal baik yang akan datang" (Ibr 9:11), Ia adalah pusat dan selebran utama liturgi yang menghormati Bapa di surga Bdk. Why 4:6-11.
Dosa terhadap Iman, kasih dan harapan.
Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan berbakti kepadaNya (Ul 6:13). Perintah pertama dalam 10 perintah Allah ini mencakup 3 kebajikan ilahi: iman, harapan dan kasih. Sebab kalau kita mengatakan bahwa Allah itu tidak berubah, tidak bergerak, tetap sama, maka amat beralasan kita mengakui-Nya sebagai yang setia tanpa ketidakadilan sedikit pun. Karena itu perlu kita menerima kata-kata-Nya, percaya kepada-Nya dengan teguh dan berharap kepada-Nya dengan sepenuh hati.
Iman
Santo Paulus berbicara tentang "ketaatan iman" (Rm 1:5; 16:26) sebagai kewajiban pertama. Terhadap Allah kita mempunyai kewajiban, supaya percaya kepada-Nya dan memberi kesaksian tentang Dia. Orang dapat berdosa melawan iman dengan berbagai cara:
1. Keragu-raguan iman yang disengaja berarti kurang bergairah atau malahan menolak untuk menerima sebagai benar, apa yang Allah wahyukan dan apa yang Gereja sampaikan untuk dipercaya. Keragu-raguan yang tidak disengaja mencakup kelambanan untuk percaya, kesukaran untuk mengatasi keberatan-keberatan terhadap iman, atau juga rasa takut yang ditimbulkan oleh kegelapan iman. Kalau keragu-raguan itu dipelihara dengan sengaja, ia akan membawa menuju kebutaan rohani.
2. Ketidakpercayaan berarti tidak menghiraukan kebenaran yang diwahyukan atau menolak dengan sengaja untuk menerimanya. "Disebut bidah kalau menyangkal atau meragu-ragukan dengan tegas suatu kebenaran yang sebenarnya harus diimani dengan sikap iman ilahi dan katolik, sesudah penerimam Sakramen Pembaptisan; disebut murtad kalau menyangkal iman-kepercayaan kristiani secara menyeluruh; disebut skisma kalau menolak ketaklukan kepada Sri Paus atau persekutuan dengan anggota-anggota Gereja yang takluk kepadanya" (CIC, can. 751)
Harapan
Kalau Allah mengasihi manusia, maka manusia tidak dapat menjawab sepenuhnya kasih ilahi dengan kekuatan sendiri. Ia harus mengharapkan bahwa Allah akan menganugerahkan kepadanya kesanggupan untuk menjawab kasih-Nya. Harapan adalah penantian dengan penuh kepercayaan akan berkat ilahi dan kehidupan surga. Dosa melawan harapan adalah keputusasaan dan kesombongan.
1. Dalam keputusasaan manusia berhenti mengharapkan dari Allah keselamatan pribadinya, bantuan rahmat, supaya sampai kepada keselamatan atau pengampunan dosa-dosanya. Dengan demikian ia menentang kebaikan Allah, keadilan-Nya - karena Tuhan selalu setia pada janji-Nya - dan kerahiman-Nya.
2. Ada dua jenis kesombongan: manusia menilai kemampuannya terlalu tinggi, dengan berharap bahwa ia dapat mencapai keselamatan tanpa bantuan dari atas; atau ia berharap terlalu berani bahwa ia dapat menerima pengampunan dari kemahakuasaan dan kerahiman Allah, tanpa bertobat, dan menjadi bahagia, tanpa jasa apa pun.
Kasih
Perintah pertama mewajibkan kita supaya mengasihi Allah di atas segala sesuatu dan mengasihi segala makhluk demi Dia dan karena Dia Bdk. Ul 6:45. Orang dapat berdosa melawan kasih Allah atas berbagai cara:
1. Sikap acuh tak acuh menampik atau malah menolak untuk memperhatikan kasih Allah, ia tidak mengakui hakikatnya yang ramah dan mengingkari kekuatannya.
2. Sifat tidak tahu terima kasih mengabaikan atau menolak mengakui kasih Allah dengan rasa syukur dan menjawabnya dengan kasih balasan.
3. Kelesuan, menunda atau sama sekali tidak rela untuk menjawab kasih ilahi; di dalamnya dapat tercakup penolakan untuk menyerahkan diri kepada kasih ini.
4. Kejenuhan hal-hal rohani (acedia) atau kelambanan rohani dapat membawa akibat bahwa orang menampik kegembiraan yang datang dari Allah dan membenci hal-hal ilahi.
5. Kebencian terhadap Allah muncul dari kesombongan. Ia menantang kasih Allah, yang kebaikan-Nya ia mungkiri dan kutuki, karena Allah melarang dosa-dosa dan menjatuhkan hukuman atasnya.
salam.
Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan berbakti kepadaNya (Ul 6:13). Perintah pertama dalam 10 perintah Allah ini mencakup 3 kebajikan ilahi: iman, harapan dan kasih. Sebab kalau kita mengatakan bahwa Allah itu tidak berubah, tidak bergerak, tetap sama, maka amat beralasan kita mengakui-Nya sebagai yang setia tanpa ketidakadilan sedikit pun. Karena itu perlu kita menerima kata-kata-Nya, percaya kepada-Nya dengan teguh dan berharap kepada-Nya dengan sepenuh hati.
Iman
Santo Paulus berbicara tentang "ketaatan iman" (Rm 1:5; 16:26) sebagai kewajiban pertama. Terhadap Allah kita mempunyai kewajiban, supaya percaya kepada-Nya dan memberi kesaksian tentang Dia. Orang dapat berdosa melawan iman dengan berbagai cara:
1. Keragu-raguan iman yang disengaja berarti kurang bergairah atau malahan menolak untuk menerima sebagai benar, apa yang Allah wahyukan dan apa yang Gereja sampaikan untuk dipercaya. Keragu-raguan yang tidak disengaja mencakup kelambanan untuk percaya, kesukaran untuk mengatasi keberatan-keberatan terhadap iman, atau juga rasa takut yang ditimbulkan oleh kegelapan iman. Kalau keragu-raguan itu dipelihara dengan sengaja, ia akan membawa menuju kebutaan rohani.
2. Ketidakpercayaan berarti tidak menghiraukan kebenaran yang diwahyukan atau menolak dengan sengaja untuk menerimanya. "Disebut bidah kalau menyangkal atau meragu-ragukan dengan tegas suatu kebenaran yang sebenarnya harus diimani dengan sikap iman ilahi dan katolik, sesudah penerimam Sakramen Pembaptisan; disebut murtad kalau menyangkal iman-kepercayaan kristiani secara menyeluruh; disebut skisma kalau menolak ketaklukan kepada Sri Paus atau persekutuan dengan anggota-anggota Gereja yang takluk kepadanya" (CIC, can. 751)
Harapan
Kalau Allah mengasihi manusia, maka manusia tidak dapat menjawab sepenuhnya kasih ilahi dengan kekuatan sendiri. Ia harus mengharapkan bahwa Allah akan menganugerahkan kepadanya kesanggupan untuk menjawab kasih-Nya. Harapan adalah penantian dengan penuh kepercayaan akan berkat ilahi dan kehidupan surga. Dosa melawan harapan adalah keputusasaan dan kesombongan.
1. Dalam keputusasaan manusia berhenti mengharapkan dari Allah keselamatan pribadinya, bantuan rahmat, supaya sampai kepada keselamatan atau pengampunan dosa-dosanya. Dengan demikian ia menentang kebaikan Allah, keadilan-Nya - karena Tuhan selalu setia pada janji-Nya - dan kerahiman-Nya.
2. Ada dua jenis kesombongan: manusia menilai kemampuannya terlalu tinggi, dengan berharap bahwa ia dapat mencapai keselamatan tanpa bantuan dari atas; atau ia berharap terlalu berani bahwa ia dapat menerima pengampunan dari kemahakuasaan dan kerahiman Allah, tanpa bertobat, dan menjadi bahagia, tanpa jasa apa pun.
Kasih
Perintah pertama mewajibkan kita supaya mengasihi Allah di atas segala sesuatu dan mengasihi segala makhluk demi Dia dan karena Dia Bdk. Ul 6:45. Orang dapat berdosa melawan kasih Allah atas berbagai cara:
1. Sikap acuh tak acuh menampik atau malah menolak untuk memperhatikan kasih Allah, ia tidak mengakui hakikatnya yang ramah dan mengingkari kekuatannya.
2. Sifat tidak tahu terima kasih mengabaikan atau menolak mengakui kasih Allah dengan rasa syukur dan menjawabnya dengan kasih balasan.
3. Kelesuan, menunda atau sama sekali tidak rela untuk menjawab kasih ilahi; di dalamnya dapat tercakup penolakan untuk menyerahkan diri kepada kasih ini.
4. Kejenuhan hal-hal rohani (acedia) atau kelambanan rohani dapat membawa akibat bahwa orang menampik kegembiraan yang datang dari Allah dan membenci hal-hal ilahi.
5. Kebencian terhadap Allah muncul dari kesombongan. Ia menantang kasih Allah, yang kebaikan-Nya ia mungkiri dan kutuki, karena Allah melarang dosa-dosa dan menjatuhkan hukuman atasnya.
salam.
Rabu, 14 Maret 2012
Semoga
kita tidak salah berdoa. Doa dengan motivasi yang buruk tidak akan
berbuah. Yang pertama-tama kita minta kepada Tuhan adalah agar
kehendakNya terjadi atas diri kita. Tuhan sendiri rindu untuk membawa
kita kepada kekudusan, Karena kasihNya, Ia juga pasti menjaga,
melindungi dan selalu memberkati kita. Semakin kita mengenal Tuhan,
semakin kita tidak ingin keinginan kita yang terjadi, melainkan kehendak
Tuhan saja.
Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima
apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu
habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu.(Yak 4:3)
salam.
Waktu terbaik yang engkau pergunakan di bumi adalah waktu
yang dipergunakan bersama sahabatmu, Yesus, di dalam Sakramen Mahakudus
Pastor Thomas terkasih,
Kemarin saya mempersembahkan Misa Kudus bagi anggota Misionaris Cinta
Kasih. Hal itu mengingatkan saya pada saat pertama kali saya bertemu dengan
Ibu Teresa dari Calcutta. Ketika dia datang ke Manila untuk mendirikan
komunitas di sini, saya diminta untuk mempersembahkan Misa bagi dia dan
para biarawatinya.
Seusai Misa saya mendapatkan kehormatan untuk berbicara dengan Ibu Teresa
secara pribadi. Saat itulah dia menceritakan kepada saya sejarah komunitasnya.
Suster Agnus, biarawati kecil dan hitam dari India, adalah pengikut pertamanya.
Hanya ada beberapa biarawati bersama Ibu Teresa pada awalnya, padahal
ada begitu banyak orang yang membutuhkan pertolongan. Dari orang tua
yang sakit, yang sedang sekarat di jalan, sampai kepada bayi dan anak-anak
yang ditelantarkan, yang tidak punya seorang pun yang merawat mereka.
Ibu Teresa ingin menolong mereka semua.
Pertanyaannya adalah, bagaimana melakukan hal itu dengan orang yang
sangat sedikit? Tidak ada cukup waktu dalam sehari untuk merawat semua
orang yang membutuhkan pertolongan. Ibu Teresa dan para biarawati berdoa
untuk mengetahui apa yang harus dilakukan. Jawabannya mengejutkan. Di
samping doa rutin mereka, Allah menginginkan sesuatu yang sangat istimewa.
Meskipun kelihatannya tidak ada cukup waktu dalam sehari, Allah menginginkan
sesuatu yang lebih. Dia ingin komunitas itu menyisihkan waktu ekstra selama
satu jam setiap hari untuk jam suci bersama-sama dalam hadirat Putra-Nya
yang ditahtakan dalam Sakramen Mahakudus.
Ibu Teresa memberi kesaksian bahwa jam suci harian ini adalah penyebab
dan alasan mengapa komunitasnya berkembang. Melalui kuasa dan rahmat
yang mengalir dari jam suci harian, komunitas tersebut telah berkembang
menjadi lebih dari tiga ribu orang. Melalui para biarawati ini, Ibu Teresa telah
menggandakan dirinya sendiri dan sekarang ada di setiap belahan dunia. Karena
ia bersedia memberikan waktu untuk bersatu dengan "Pokok Anggur” sekarang
ia dapat menjangkau dan merangkul seluruh dunia.
Dalam Percakapan pada Perjamuan Terakhir-Nya, Yesus berkata, barangsiapa
tinggal di dalam Dia dalam Sakramen Mahakudus akan berbuah banyak (Yoh
15:5). Buah kerasulan dari Ibu Teresa dan para biarawatinya terus-menerus
membuat kagum dunia.
Kisah dari Ibu Teresa menginsiprasi saya untuk melakukan hal yang sama.
Saya membaca tentang kerasulan adorasi abadi dan bagaimana Pastor Martin
Lucia telah berhasil mempromosikannya di seluruh Amerika Serikat dan negara-
negara lain. Saya ingin menyebarkannya di seluruh Filipina. Inilah sebabnya
mengapa saya mendirikan komunitas bernama Para Murid Ekaristi dari St.
Pius X (The Eucharistic Disciples of St. Pius X). Siang dan malam tanpa henti
mereka datang di hadapan Sakramen Mahakudus dalam adorasi penuh kasih.
Awalnya, mereka berdoa supaya Pastor Martin datang ke Filipina dan mulai
membangun kerasulan yang besar untuk mengadakan adorasi abadi di paroki-
paroki. Lalu mereka berdoa untuk penyebarannya di seluruh negara. Sekarang
sudah ada 500 kapel. Kini, Para Murid Ekaristi berdoa supaya kami mencapai
target 1000 kapel adorasi abadi di paroki-paroki.
Dua conoh ini, dari Ibu Teresa dan Para Murid Ekaristi, menggambarkan
kebenaran dari Yesus yang berkata di Injil hari ini: "Marta, Marta, engkau
kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja
yang perlu, Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil
dari padanya" (Luk 10:41, 42)
Bagian yang terbaik adalah berada bersama Yesus dalam Sakramen
Mahakudus. Waktu terbaik yang engkau pergunakan di bumi, Thomas terkasih,
adalah waktu yang dipergunakan bersama sahabatmu, Yesus, di dalam
Sakramen Mahakudus. Dan inilah cara yang paling pasti untuk menghasilkan
buah kerasulan yang besar.
Salam saya dalam Kasih Ekaristi Kudus -Nya,
Mgr. Pepe
Tulisan ini ditulis dalam bentuk surat kepada para imam.
(Dikutip dari buku cinta Yesus dalam Sakramen Mahakudus)salam.
Pastor Thomas terkasih,
Kemarin saya mempersembahkan Misa Kudus bagi anggota Misionaris Cinta
Kasih. Hal itu mengingatkan saya pada saat pertama kali saya bertemu dengan
Ibu Teresa dari Calcutta. Ketika dia datang ke Manila untuk mendirikan
komunitas di sini, saya diminta untuk mempersembahkan Misa bagi dia dan
para biarawatinya.
Seusai Misa saya mendapatkan kehormatan untuk berbicara dengan Ibu Teresa
secara pribadi. Saat itulah dia menceritakan kepada saya sejarah komunitasnya.
Suster Agnus, biarawati kecil dan hitam dari India, adalah pengikut pertamanya.
Hanya ada beberapa biarawati bersama Ibu Teresa pada awalnya, padahal
ada begitu banyak orang yang membutuhkan pertolongan. Dari orang tua
yang sakit, yang sedang sekarat di jalan, sampai kepada bayi dan anak-anak
yang ditelantarkan, yang tidak punya seorang pun yang merawat mereka.
Ibu Teresa ingin menolong mereka semua.
Pertanyaannya adalah, bagaimana melakukan hal itu dengan orang yang
sangat sedikit? Tidak ada cukup waktu dalam sehari untuk merawat semua
orang yang membutuhkan pertolongan. Ibu Teresa dan para biarawati berdoa
untuk mengetahui apa yang harus dilakukan. Jawabannya mengejutkan. Di
samping doa rutin mereka, Allah menginginkan sesuatu yang sangat istimewa.
Meskipun kelihatannya tidak ada cukup waktu dalam sehari, Allah menginginkan
sesuatu yang lebih. Dia ingin komunitas itu menyisihkan waktu ekstra selama
satu jam setiap hari untuk jam suci bersama-sama dalam hadirat Putra-Nya
yang ditahtakan dalam Sakramen Mahakudus.
Ibu Teresa memberi kesaksian bahwa jam suci harian ini adalah penyebab
dan alasan mengapa komunitasnya berkembang. Melalui kuasa dan rahmat
yang mengalir dari jam suci harian, komunitas tersebut telah berkembang
menjadi lebih dari tiga ribu orang. Melalui para biarawati ini, Ibu Teresa telah
menggandakan dirinya sendiri dan sekarang ada di setiap belahan dunia. Karena
ia bersedia memberikan waktu untuk bersatu dengan "Pokok Anggur” sekarang
ia dapat menjangkau dan merangkul seluruh dunia.
Dalam Percakapan pada Perjamuan Terakhir-Nya, Yesus berkata, barangsiapa
tinggal di dalam Dia dalam Sakramen Mahakudus akan berbuah banyak (Yoh
15:5). Buah kerasulan dari Ibu Teresa dan para biarawatinya terus-menerus
membuat kagum dunia.
Kisah dari Ibu Teresa menginsiprasi saya untuk melakukan hal yang sama.
Saya membaca tentang kerasulan adorasi abadi dan bagaimana Pastor Martin
Lucia telah berhasil mempromosikannya di seluruh Amerika Serikat dan negara-
negara lain. Saya ingin menyebarkannya di seluruh Filipina. Inilah sebabnya
mengapa saya mendirikan komunitas bernama Para Murid Ekaristi dari St.
Pius X (The Eucharistic Disciples of St. Pius X). Siang dan malam tanpa henti
mereka datang di hadapan Sakramen Mahakudus dalam adorasi penuh kasih.
Awalnya, mereka berdoa supaya Pastor Martin datang ke Filipina dan mulai
membangun kerasulan yang besar untuk mengadakan adorasi abadi di paroki-
paroki. Lalu mereka berdoa untuk penyebarannya di seluruh negara. Sekarang
sudah ada 500 kapel. Kini, Para Murid Ekaristi berdoa supaya kami mencapai
target 1000 kapel adorasi abadi di paroki-paroki.
Dua conoh ini, dari Ibu Teresa dan Para Murid Ekaristi, menggambarkan
kebenaran dari Yesus yang berkata di Injil hari ini: "Marta, Marta, engkau
kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja
yang perlu, Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil
dari padanya" (Luk 10:41, 42)
Bagian yang terbaik adalah berada bersama Yesus dalam Sakramen
Mahakudus. Waktu terbaik yang engkau pergunakan di bumi, Thomas terkasih,
adalah waktu yang dipergunakan bersama sahabatmu, Yesus, di dalam
Sakramen Mahakudus. Dan inilah cara yang paling pasti untuk menghasilkan
buah kerasulan yang besar.
Salam saya dalam Kasih Ekaristi Kudus -Nya,
Mgr. Pepe
Tulisan ini ditulis dalam bentuk surat kepada para imam.
(Dikutip dari buku cinta Yesus dalam Sakramen Mahakudus)salam.
"Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku."(Luk 9:23)
Kita tidak perlu mencari-cari salib. Saat setiap kejadian dalam hidup
yang menimpa kita, kita jalani sesuai kehendak Tuhan, kita akan
mengalami kesukaran-kesukaran. Itulah salib yang harus kita pikul setiap
hari. Sebagai contoh, hidup suami istri yang tidak mengindahkan
larangan Gereja soal kontrasepsi, tidak akan menghadapi kesukaran.
Tetapi saat keluarga Katolik yang taat, menjalani hidup berumah tangga
tanpa kontrasepsi, mereka akan mengalami kesukaran. Mereka harus
menundukkan nafsu di bawah ketaatan... Mereka telah memikul salib.
salam.
MERUBAH KEHILANGAN MENJADI KELEPASAN YANG PENUH RAHMAT
By: Fr. Laurence Freeman OSB
Menyadari bahwa anda benar-benar telah kehilangan sesuatu membuat shock
seluruh sistem anda, saat duka bercampur dengan kemarahan dan
kebingungan. Sesuatu yang hilang bisa jadi kunci mobil atau seseorang
yang anda kasihi; intensitas dan jangka waktu shock itu berbeda-beda
tetapi penolakan langsung atas kehilangan sesuatu yang kita (kira) miliki itu terbentuk dalam psikis kita.
Tetapi menemukan sesuatu yang telah hilang akan memenuhi kita dengan
suka cita dan syukur pada tingkat yang lebih tinggi. Milik yang kita
kira telah hilang, kita temukan kembali seperti "sebuah karunia" dan
setiap saat, kita mengalami pemberian (dari atau kepada diri kita), kita
menjadi lebih hidup, lebih murah hati dan lebih menjadidiri kita
sendiri. Bagaimanapun juga hidup mengajar kita kebenaran akan penemuan
dan kehilangan ini. Tetapi kita dapat menerapkan kebenaran dan pada
tingkat tertentu dapat mengantisipasi rasa sakit dan shock atas
kehilangan tersebut. Lebih jauh lagi disebut melepaskan. Jika kita lebih
melekat dan lebih merasa memiliki maka rasa sakit atas kehilangan
tersebut lebih
parah. Melepaskan adalah semacam kerelaan untuk hilang - suatu paradox yang
mengubah kehilangan menjadi penemuan.
Prapaskah - dan disiplin pengendalian diri sederhana apapun yang kita
jalankan selama 40 hari mendatang - mengajar kita cara untuk melepaskan
setiap saat, dengan setiap tarikan napas, setiap perjumpaan, dalam
setiap relasi. St. Benediktus berkata bahwa berdasakan
disiplin pengendalian diri, hidup seharusnya menjadi masa prapaskah yang
berkesinambungan. Masa prapaskah memberi kita kekuatan untuk hidup dengan
kebebasan dan spontanitas dan yang terutama ketidak takutan yang
membuat kepenuhan kemanusiaan kita berbuah. Kita cukup hanya percaya dan
melambung. "Siapa saja yang ingin menyelamatkan nyawanya akan
kehilangan nyawanya." Kita melakukannya secara bertahap - pergeseran
arah yang lembut yang direalisasikan oleh latihan harian meditasi kita.
Dikutip dari KOMUNITAS MEDITASI KRISTIANI SURABAYA
SALAM.
KATOLIKISME DAN KESELAMATAN KEKAL
Keselamatan kekal adalah sebuah keadaan yang sudah selesai di masa
lampau pada saat seseorang menerima Kristus maka dia telah selamat,
tidak mungkin, dengan segala daya manusiawinya, dia menjadikan dirinya
tidak selamat. Kepercayaan “Keselamatan Kekal” ini dinamakan Calvinisme
di dalam ajaran Protestan. Sebenarnya ajaran tersebut juga diajarkan
oleh Marthin Luther, bapa Protestantisme. Beliau mengajarkan bahwa
manusia diselamatkan oleh iman saja (sola fide), terpisah dari
perbuatan. Menurut Luther, setelah seseorang menerima Yesus, maka tidak
perduli apa pun yang dilakukannya, apakah itu membunuh atau berzinah
beribu-ribu kali sehari, ia pasti akan tetap masuk surga. Dalam suratnya
kepada muridnya, Melancthon, tertanggal 1 Agustus 1521, Luther
mengatakan, “.....Be a sinner, and let your sins be strong, but let your
trust be in Christ be stronger...no sin can separate us from Him, even
if we were to kill or commit adultery thousand of time each day....”
Bila seorang Katolik ditanyakan,”Apakah anda percaya anda selamat?”,
maka orang Katolik tersebut tidak bisa menjawab dengan pasti “Ya”.
Mengapa? Karena seorang Katolik harus rendah hati agar dapat berjalan di
jalan yang benar dan mencapai tujuan keagamaan yang dicarinya. Dengan
kata lain, keberhasilan dalam hidup rohaninya tidaklah terjamin. “Sekali
selamat tetap selamat” sudah menganggap bahwa keselamatan itu adalah
suatu kejadian yang sudah terjadi pada suatu waktu di masa lampau.Bagi
Katolikisme itu kedengarannya terlalu mempermudah masalah.
Mari
kita lihat sebuah contoh dari Perjanjian Lama. Raja Daud, raja Israel
yang kedua, berzinah dan membunuh, dan mereka yang percaya dengan
keselamatan kekal mengatakan bahwa “Raja Daud hanya kehilangan sukacita
keselamatannya saja karena telah berzinah dengan Batsyeba dan membunuh
suami Batsyeba, Uria. Dalam Mazmur 51:12 dia hanya berdoa memohon untuk
mendapatkan kembali sukacita keselamatannya. Dan lagi, Daud
adalahseorang kesenangan hati Allah dan menulis salah satu bagian dari
Kitab Suci. Jelas, dia selamat?”
Mengatakan bahwa Raja Daud
tidak kehilangan keselamatannya karena dosa-dosa perzinahan dan
pembunuhan adalah menyangkal Kitab Suci .” Atau tidak tahukah kamu,
bahwa orang-orang yang tidak adil tidak akan mendapat bagian dalam
Kerajaan Allah ? Janganlah sesat! Orang cabul, penyembah berhala, orang
berzinah, banci, orang pemburit, pencuri, orang kikir, pemabuk,
pemfitnah dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah”,1
Korintus 6:9,10 dan “Tetapi orang-orang penakut, orang-orang yang tidak
percaya , orang-orang keji, orang-orang pembunuh, orang-orang sundal,
tukang-tukang sihir, penyembah-penyembah berhala dan semua pendusta,
mereka akan mendapat bagian mereka di dalam lautan yang menyala-nyala
oleh api dan belerang; inilah kematian yang kedua,”Wahyu 21:8. Hanya
karena Raja Daud berdoa agar kegirangan keselamatannya dipulihkan tidak
berarti bahwa ayat-ayat terdahulu (1 Kor.6:9,10 dan Wahyu 21:8) di atas
tidak berlaku.
Bagi seorang Katolik, dengan berpegang teguh
kepada keseluruhan ajaran Kitab Suci, percaya atau iman tersebut adalah
sebuah proses: yang telah, sedang dan yang akan datang.Terhadap
pertanyaan apakah anda sudah selamat, seorang Katolik akan menjawab
demikian,” Saya telah diselamatkan, saya sedang dalam proses
diselamatkan dan pada akhirnya, saya akan diselamatkan.”
Mari
kita kembali kepada kisah Raja Daud. Apakah selama kurang lebih sembilan
bulan atau lebih lama Raja Daud telah memenuhi definisi Kitab Suci
sebagai seorang “penzinah” atau “pembunuh”?Untuk menjawab pertanyaan
ini, kita harus mempertimbangkan berapa banyak kalikah seseorang itu
harus membunuh atau berzinah sebelum dia dianggap sebagai “pembunuh”
atau “penzinah”, menurut Kitab Suci? Lagi, menurut Kitab Suci, apakah
jawabannya? Imamat 20:10 menyatakan, “Bila seorang laki-laki berzinah
dengan isteri orang lain, yakni berzinah dengan isteri sesamanya
manusia, pastilah keduanya dihukum mati, baik laki-laki maupun perempuan
yang berzinah itu.” Jadi, menurut Kitab Suci, satu kali saja seorang
itu melakukan perbuatan zinah menjadikan dia seorang “penzinah”. Di
dalam Kitab Bilangan 35:16-18, identitas seorang pembunuh dinyatakan,
“Tetapi jika ia membunuh orang itu dengan benda besi, sehingga orang itu
mati, maka ia seorang pembunuh; pastilah pembunuh itu dibunuh. Dan jika
ia membunuh orang itu dengan batu di tangan yang mungkin menyebabkan
matinya seseorang, sehingga orang itu mati, maka ia seorang pembunuh;
pastilah pembunuh itu dibunuh. Atau jika ia membunuh orang itu dengan
benda kayu di tangan yang mungkin menyebabkan matinya seseorang,
sehingga orang itu mati, maka ia seorang pembunuh; pastilah pembunuh itu
dibunuh.” Seperti dengan penzinah, satu tindakan pembunuhan telah
menjadikan seseorang itu pembunuh juga di hadapan Allah. Tidak perlu
seseorang itu melakukan dua atau dua puluh lima kali perzinahan atau
pembunuhan sebelum dia dinyatakan sebagai seorang pembunuh atau
penzinah. Mengenai pembunuhan, kita melihat di dalam Perjanjian Baru, 1
Yohanes 3:15, “Setiap orang yang membenci saudaranya, adalah seorang
pembunuh manusia. Dan kamu tahu, bahwa tidak ada seorang pembunuh yang
tetap memiliki hidup yang kekal di dalam dirinya”.
Menurut
Kitab Suci, ketika Raja Daud berdosa dengan melakukan perzinahan dan
pembunuhan, dia tidak memiliki hidup kekal di dalam dirinya, dengan kata
lain dia kehilangan keselamatannya, bukan sekedar kehilangan sukacita
keselamatan. Sekarang marilah kitamelihat diri kita. Sebagai seorang
Katolik, kita harus bertahan sampai akhir. Jika kita yang telah menerima
sakramen-sakramen Katolik lengkap tetapi tidak hidup dalam suatu
hubungan yang intim dengan Tuhan, maka keselamatan kita perlu
diragukan.Tuhan tidak akan pernah melabrak kebebasan kehendak bebas
kita.Selama kita masih hidup di dalam daging (sebagai manusia), kita
memiliki kemungkinan menolak Allah. Rasul Paulus menulis mengapa dia
berjuang begitu keras di dalam kehidupan rohaninya, “ Sebab itu aku
tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja
memukul. Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya
sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri
ditolak.”(1 Korintus 9:26-27). Dengan kata lain, St.Paulus mengerjakan
keselamatannya untuk memperoleh apa yang sekian lama didambakannya.
Kita tidak meragukan kuasa Allah untuk memelihara semua orang yang
datang untuk beroleh keselamatan dari-Nya, tetapi Dia tidak akan
mempertahankan mereka melawan kehendak mereka sendiri. Keselamatan
haruslah merupakan hubungan yang bebas, jika tidak maka ia bukan
hubungan sama sekali. Karena itu, orang-orang Katolik harus tetap
waspada jangan sampai ia jatuh dari kasih karunia Allah yang sebegitu
besar.Markus 13:13,” Kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku.
Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya ia akan selamat."
Ada tersedia keselamatan bagi dia yang bertahan sampai akhir, tetapi
kita tidak dapat mengatakan kapankah perlombaan itu akan berakhir.
Doktrin “keselamatan kekal”- “sekali selamat tetap selamat” bukanlah
pengajaran Kristus.Sebaliknya, Kristus mengajarkan agar orang-orang
saleh bertahan sampai kesudahannya melalui kekuatan dan kasih karunia
Allah. Mereka yang berada di dalam Kristus tidak kebal dari kemungkinan
murtad dari Allah.Dosa memiliki daya tarik yang dapat menyebabkan hati
menjadi keras dan akhirnya murtad. Keselamatan dengan Kristus adalah
milik mereka yang bertahan sampai akhir.
(Akan diterbitkan dalam buletin KOMUNIO, buletin Keuskupan Agung Palembang bulan depan)
Dikutip dari akun Bp. Jerry.
salam.
Menolong
orang miskin itu adalah keadilan (St. Vincentius a Paulo). Dalam setiap
berkat yang diberikan Tuhan kepada kita terdapat berkat yang Tuhan
titipkan untuk kita berikan kepada orang miskin.
Hak atas milik
pribadi tidak menghilangkan kenyataan bahwa bahwa bumi ini pada awalnya
diberikan kepada seluruh umat manusia. Bahwa harta benda ditentukan
untuk semua manusia.(bdk.KGK 2403)
"Oleh karena
itu manusia, sementara menggunakan harta miliknya, harus memandang
harta yang dimilikinya secara sah bukan hanya sebagai miliknya sendiri,
melainkan juga sebagai milik umum, dalam arti bahwa hal-hal itu dapat
berguna tidak hanya bagi dirinya sendiri, melainkan juga bagi sesamanya"
(G.s 69, 1). Pemilikan sesuatu benda membuat pemiliknya menjadi
pengurus di dalam pengabdian penyelenggaraan ilahi; ia harus
memanfaatkannya dan harus membagi-bagikan hasil yang diperoleh darinya
dengan orang lain, pada tempat yang pertama dengan sanak saudaranya.
(KGK 2404)
Jadi jelas harta benda manusia adalah harta milik
Allah yang dishare bersama. Hak milik pribadi artinya hak mengurus harta
Allah ini. Pengurus harta Allah ini harus tahu, bahwa harta ini tidak
berguna bagi dirinya saja, tetapi juga bagi sesamanya. Karena itu betapa
murkanya Allah Sang pemilik harta bersama ini, ketika anakNya yang
miskin tidak mendapat bagian untuk memenuhi kebutuhan pokoknya.
"Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke
dalam api yang kekal yang telah sedia untuk Iblis dan
malaikat-malaikatnya. Sebab ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku
makan; ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minum";(Mat 25:41-42)
salam.
Seorang
tukang pos ketika dalam perjalanan mengantar sebuah paket, menjatuhkan
paket itu sehingga isi paket itu berceceran. Ternyata isi paket itu
adalah Alkitab. Ia kemudian mengambil satu Alkitab dan membungkus
sisanya lalu mengirim ke penerima. Sang atasan akhirnya tahu bahwa
tukang pos ini mencuri satu Alkitab dari laporan penerima paket. Sang
atasan yang tahu sebenarnya bawahannya ini adalah pekerja
yang baik, bertanya kepadanya," Mengapa kamu mencuri Alkitab itu?" Si
tukang pos menjawab,"Saya mengambilnya karena kereligiusan saya."
Belajar dari tukang pos di atas, perasaan religius bukanlah tanda
kekudusan. Banyak orang giat berdevosi, rajin ke Gereja atau ke
persekutuan-persekutuan doa, serta aktif melayani di Gereja. Secara
otomatis kita akan merasakan perasaan religius, yang membuat kita merasa
saleh, merasa dekat dengan Tuhan. Tetapi itu bukan tanda bahwa rohani
kita sudah baik. Di samping perasaan religius, pengetahuan yang luas
terhadap hal-hal rohani, seperti doa dan spiritualitas serta
ajaran-ajaran Gereja, tidak juga menandakan kekudusan.
Kekudusan atau rohani yang baik bila rohani kita bertumbuh. Rohani yang
bertumbuh bila diri kita senantiasa berubah atau senantiasa bertobat.
Sebagian orang pernah bertobat dari dosa-dosa di masa lalu, tetapi bila
saat ini ia sudah berhenti bertobat, pertobatannya yang dulu seolah
tidak ada gunanya. Rohani kita bertumbuh bila kebaikan kita semakin
bertambah. Kita menjadi semakin murah hati, semakin kuat menahan dosa,
semakin dalam menjalani hidup doa, kemampuan kita semakin bertambah
dalam mengendalikan diri, semakin percaya pada kehendak Tuhan.
Menurut St. Theresia Avila, hidup rohani itu ibarat mendayung perahu
menuju hulu melawan arus. Saat kita berhenti mendayung, perahu akan
mundur. Hidup rohani tidak mengenal kata berhenti, yang ada hanya maju
atau mundur. Hidup kudus itu bukan tidak berbuat dosa sama sekali,
tetapi bertobat terus menerus. Tak peduli seorang pemula yang baru saja
menjalani hidup rohani. Setiap orang bertumbuh setahap demi setahap.
Yang penting dalam hidup rohani adalah kita selalu bertumbuh, berubah
terus dan bertobat terus menerus. Tetapi kita perlu bijak juga,
kekudusan tidak dapat dicapai dalam waktu singkat. Berusaha terlalu
keras untuk menjadi kudus dalam waktu singkat, bila kita jatuh, kita
akan menjadi sulit untuk bangkit kembali.
salam.
Apakah
benar bahwa Ul 18:15.18 adalah ramalan tentang Muhammad? Apakah ada
ramalan lain tentang kedatangan Muhammad dalam Kitab Suci kita?
Yulia Henny, Pasuruan
Pertama, Ul 18:15 berbunyi: “Seorang nabi dari tengah-tengahmu, dari
antara saudara-saudaramu, sama seperti aku, akan dibangkitkan bagimu
oleh TUHAN, Allahmu; dialah yang harus kamu dengarkan.” Sedangkan ayat
18 berbunyi: “Seorang nabi akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara
saudara mereka, seperti engkau ini; Aku akan menaruh firman-Ku dalam
mulutnya, dan dia akan mengatakan kepada mereka segala yang
Kuperintahkan kepadanya.”
Dalam kedua ayat di atas terdapat
kata “saudara” yang oleh kaum Muslim ditafsirkan sebagai: mencakup juga
bangsa Arab, keturunan Ismael, yang adalah saudara bangsa Israel sebagai
keturunan Ishak (bdk Kej 21:10-11.13). Karena itu, menurut beberapa
kaum Muslim, kedua ayat tersebut meramalkan kedatangan Muhammad.
Kedua, penafsiran Muslim di atas tidak bisa diterima karena kata
”saudara” pada umumnya merujuk pada kaum keluarga yang dekat. Karena
kedua ayat itu dikatakan kepada suku-suku keturunan Yakob, Israel, maka
kata ”saudara” sepantasnya merujuk kepada kaum kerabat keturunan Yakob.
Bagi keturunan Yakob, keturunan Ismael sudah dipandang sebagai orang
asing, bukan lagi sebagai ”saudara”. Ul 17:15 yang juga mengandung
ungkapan ”saudara-saudaramu” menunjukkan penafsiran ini, yaitu bahwa
ungkapan ”saudara” hanya ditafsirkan sebatas di antara suku-suku Israel,
keturunan Yakob, tidak melampaui batas Israel.
Ketiga,
penafsiran kristiani ini bersumber dari penafsiran Perjanjian Baru
sendiri, yaitu bahwa kedua ayat tersebut terpenuhi dalam diri Yesus
Kristus. Ul 18:15: ”Dialah yang harus Engkau dengarkan!” tergema dalam
Mat 17:5: ”dengarkanlah Dia.” Nabi yang akan datang itu tak lain ialah
Yesus Kristus (bdk Yoh 5:46).
Keempat, ada sementara orang
Muslim yang menafsirkan janji Yesus akan Roh Kudus (Yoh 14:16.26; 15:26;
16:7.13) itu sebagai janji akan kedatangan Muhammad (bdk HIDUP, No 16,
20 April 2008). Kesalahtafsiran ini sangat mungkin disebabkan oleh
ketidakmengertian akan bahasa Yunani, yaitu menyamakan antara parakletos
(penghibur) dengan periklytos (yang terpuji) yang bunyinya hampir sama.
Perlu diketahui bahwa nama Muhammad berarti “yang terpuji” atau
periklytos dalam bahasa Yunani.
Janji Yesus akan penghibur atau
pendamping tidak mungkin diartikan sebagai Muhammad, karena Muhammad
datang sesudah 600 tahun. Jadi, tidak mungkin bisa menjadi penghibur
atau pendamping komunitas para rasul. Tidak masuk akal bahwa janji Yesus
baru terpenuhi 600 tahun kemudian. Lebih tepat janji Yesus itu ialah
Roh Kudus yang turun atas para rasul 10 hari sesudah kenaikan Yesus ke
surga.
Demikian pula, apakah kaum Muslim akan bisa mengakui
bahwa Parakletos (kalau diartikan sebagai Muhammad) ini dikirim oleh
Kristus (Yoh 15:26; 16:7)? Apakah kaum Muslim akan menerima tugas
Parakletos sebagai tugas Muhammad? Yaitu, bahwa pekerjaan Parakletos ini
ialah “memimpin ke dalam seluruh kebenaran” seperti yang sudah
diajarkan Yesus Kristus. Dia akan “memuliakan” Kristus karena Dia akan
memberitakan kepada umat apa yang diterimanya daripada Kristus (Yoh
16:13-15). Parakletos menerima semuanya dari Kristus dan memberitakan
hal itu kepada para murid. Parakletos tidak akan memuliakan dirinya
sendiri.
Tambahan lagi, pekerjaan yang dilakukan Parakletos
berada pada tataran batiniah, yaitu ”menginsyafkan dunia akan dosa,
kebenaran, dan penghakiman” (Yoh 16:9). Pekerjaan Parakletos yang
demikian ini tentu tidak sesuai dengan kenyataan apa yang dilakukan
Muhammad. Dalam Perjanjian Baru sama sekali tidak dikatakan bahwa
pekerjaan Parakletos adalah memimpin perang dengan senjata duniawi dan
memperoleh kemenangan sosiopolitis. Pekerjaan yang demikian itu sama
sekali asing bagi Parakletos.
Jadi, kita bisa menyimpulkan
bahwa Parakletos yang dijanjikan Yesus pasti bukan Muhammad. Kemiripan
bunyi antara parakletos dan periklytos sama sekali tidak didukung data
lainnya, agar janji Yesus akan Parakletos bisa diartikan sebagai janji
akan kedatangan Muhammad.
Dr Petrus Maria Handoko CM
Sumber: Majalah Hidup.
Hal yang sewajarnya dan baik menurut penilaian mayoritas manusia:
1. Kita harus baik kepada teman kita, karena mereka juga sudah baik
kepada kita. Kalau kita berbuat jahat terhadap orang yang baik kepada
kita, itu namanya tidak tahu diri seperti peribahasa air susu dibalas
air tuba.
2. Bila ada orang yang memusuhi kita, kita harus balas memusuhi dia. Bukankah ini sudah adil?
TETAPI TUHAN YESUS MENGAJARKAN LAIN!
Kita tidak hanya berbuat baik kepada orang yang baik kepada kita,
tetapi juga terhadap musuh-musuh kita. Kita berbuat baik kepada orang
lain bukan karena orang lain baik atau jahat terhadap kita, tetapi
karena Tuhan telah berbuat baik, bahkan terlalu baik kepada kita. Ia
juga mencintai tidak hanya orang baik, tetapi juga orang jahat. Tuhan
ingin menjamah hati orang jahat dengan memakai tangan kita, agar melalui
perbuatan baik dan tulus yang kita lakukan orang jahat ini bisa
bertobat. Di mata Tuhan orang jahat pun berhak menerima perbuatan baik.
Tuhan baru menghakimi orang jahat saat kematiannya, yaitu bila ia tetap
jahat.
"Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu."(Mat 5:44)
Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling
mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu
harus saling mengasihi.(Yoh 13:34)
salam.
"Ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu." (Luk 6:38)
Hendaknya kita tidak mengukur orang lain dengan ukuran kita. Setiap
orang diukur hanya oleh ukuran Tuhan. St. Theresia Lisieux pernah
berkata,"Cinta kasih itu menanggung kelemahan orang lain."
Kalau kita mau menghitung dosa-dosa kita sejak kita mulai mengenal dosa sampai sekarang, BERAPA banyakkah dosa kita? dan KEMANAKAH
dosa-dosa itu saat ini? Sudah tentu waktu tidak dapat dilulang dan kita
tidak bisa membatalkan perbuatan kita yang menghasilkan dosa. Dosa-dosa
kita tidaklah hilang lenyap.... tetapi ditanggung oleh Yesus. Tuhan
Yesuslah yang menanggung kelemahan kita, menanggung perbuatan jahat
kita. Yaitu bila kita mengakui bahwa kita berdosa dan bertobat.
Sekalipun berjuang, manusia tidak mungkin tidak berdosa sama sekali,
karena itu, kita sewajarnya senantiasa merendahkan diri sembari mengakui
kelemahan kita dan mohon agar Tuhan mengisi lubang-lubang dalam diri
kita dengan Tubuh dan DarahNya.
Tetapi ada satu lagi yang
diminta Tuhan, yaitu ketika saudara kita lemah, kita diminta Tuhan yang
Maharahim ini untuk tidak menghakimi, sebaliknya kita harus menanggung
kelemahannya dengan kelebihan yang ada pada diri kita.
salam.
Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan
terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa. Tetapi ayah
itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa ke mari jubah yang
terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya. (Luk 15:21-22)
Anak yang hilang ini sudah merancang kata-kata pertobatan. Ia sudah membuat keputusan untuk hanya menjadi orang upahan, tidaklagi menjadi anak. (Memang kita sebagai orang yang memberontak terhadap Bapa, kita sebenarnya hanya berhak menjadi orang upahan). Tetapi sebelum anak yang hilang ini menyelesaikan maksudnya untuk hanya menjadi orang upahan, Sang Bapa tidak memberinya kesempatan untuk merendahkan dirinya terlalu jauh. Bapa lekas-lekas meninggikannya dengan mendandaninya agar terlihat bersinar.
Di mata Bapa sukacita karena kembalinya anakNya yang hilang ini melupakan segala pemberontakan yang pernah dibuatnya.
Sungguh berbahagia orang yang bertobat, yang berbalik dari jalan hidupnya yang lama, yang kembali pulang kepada Bapa yang penuh kasih.
Anak yang hilang ini sudah merancang kata-kata pertobatan. Ia sudah membuat keputusan untuk hanya menjadi orang upahan, tidaklagi menjadi anak. (Memang kita sebagai orang yang memberontak terhadap Bapa, kita sebenarnya hanya berhak menjadi orang upahan). Tetapi sebelum anak yang hilang ini menyelesaikan maksudnya untuk hanya menjadi orang upahan, Sang Bapa tidak memberinya kesempatan untuk merendahkan dirinya terlalu jauh. Bapa lekas-lekas meninggikannya dengan mendandaninya agar terlihat bersinar.
Di mata Bapa sukacita karena kembalinya anakNya yang hilang ini melupakan segala pemberontakan yang pernah dibuatnya.
Sungguh berbahagia orang yang bertobat, yang berbalik dari jalan hidupnya yang lama, yang kembali pulang kepada Bapa yang penuh kasih.
Dosa dan Penyakit kanker
Apa
yang terjadi bila kita terkena penyakit kanker. Betapa kita membenci
penyakit itu. Karenanya kita ingin membuang penyakit itu dari diri kita.
Ini wajar sekali. Bayangkan bila ada orang yang merasa baik-baik saja
dengan penyakit kanker yang dideritanya, ia mencintai penyakitnya,
dengan demikian ia tidak merasa harus disembuhkan. Berarti orang ini
sudah tidak memiliki akal yang sehat. Begitu pun
dengan kebiasaan berdosa dalam hidup kita. Kita tidak akan berhenti
berdosa, bila kita tidak menganggap dosa itu seperti penyakit yang harus
dibenci, dengan demikian harus dilenyapkan. Saat ini sering dosa bukan
lagi dipandang sebagai dosa. Hingga akhirnya dosa itu menyebar seperti
kanker, sangat sulit disembuhkan, karena pendosa tidak lagi merasa
berdosa. Dosa yang kita sadari sebenarnya lebih banyak dari dosa yang
tidak kita sadari.
salam.
Selasa, 13 Maret 2012
Doa
adalah nafas dari jiwa. Ia adalah gerbang surga, gerbang malaikat.
Ketika kita berdoa, kita menjadi serupa dengan malaikat. Jiwa seorang
manusia pendoa, tidak henti-hentinya memuji Allah. Musuh terbesar pendoa
adalah iblis. Ketika kita mulai berdoa, iblis akan secara terus menerus
memasukkan ke dalam pikiran kita hal-hal lain yang seharusnya kita
lakukan, tugas-tugas yang seharusnya kita tuntaskan.
Karena itu kita harus memiliki disiplin dalam waktu doa, lamanya doa
dan pukul berapa kita berdoa. Segala tugas dan pekerjaan yang harus
dituntaskan ibarat sungai, sedangkan doa adalah mata airnya, sumber bagi
air yang mengaliri sungai-sungai di bawahnya. Jadi tidak mungkin
pekerjaan kita memiliki sentuhan nilai rohani tanpa ada doa sebelumnya.
salam.
Tidak mengenal Gereja Katolik, tidak mengenal Kristus.
Tidak
mengenal Kitab Suci, tidak mengenal Kristus. Tetapi Kitab Suci
dijadikan Kitab Suci oleh Gereja. Mengenal Kitab Suci saja tanpa
mengenal Gereja, tidak juga akan mengenal Kristus. Mengenal Gereja
berarti mengenal Tubuh Kristus, dan menghantar kita mengenal Kristus.
Kristus telah mendirikan GerejaNya dan telah melimpahkan wewenang
mengajarNya kepada GerejaNya. Apa yang diajarkan Gereja adalah Yesus
Kristus. Jadi tidak mengenal ajaran Gereja, tidak mengenal Kristus.
Penjelasan:
Banyak orang
mengenal Kitab Suci luar dalam. Tetapi kenyataannya mereka yang mengenal
Kitab Suci saja, gagal mengenali ajaran Yesus yang otentik. Mereka
merasa tahu Hosti dalam Ekaristi bukan Tubuh Kristus, Yesus memiliki
saudara kandung, berkat dari Yesus identik dengan harta. Tetapi apa yang
diajarkan Yesus kepada Gereja Katolik lewat para rasul justru
berlawanan.
Ajaran Yesus yang otentik hanya diajarkan dalam Gereja Katolik, karena:
Pertama, Gereja Katolik telah menerima pelimpahan wewenang mengajar dari Yesus, wewenang ini adalah Magisterium.
Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya apa yang kamu ikat di dunia ini akan
terikat di sorga dan apa yang kamu lepaskan di dunia ini akan terlepas
di sorga.(Mat 18:18);
Barangsiapa mendengarkan kamu, ia mendengarkan
Aku; dan barangsiapa menolak kamu, ia menolak Aku; dan barangsiapa
menolak Aku, ia menolak Dia yang mengutus Aku."( Luk10:16)
Kedua,
Tidak semua yang diajarkan Yesus kepada para rasul tertulis dalam Kitab
Suci. Ajaran Yesus yang tidak tertulis dalam Kitab Suci hanya diajarkan
secara lengkap dalam Gereja Katolik, inilah Tradisi Suci.
Kitab Suci sendiri dinyatakan sebagai Kitab wahyu Allah karena Gereja yang menetapkannya/ mengkanonkannya melalui konsili-konsili.
Jadi mengenal Kitab Suci saja tanpa mengenal ajaran Gereja Katolik
berarti tidak mengenal ajaran Yesus secara otentik dan lengkap, atau
gagal mengenali Yesus yang sebenarnya.
Kata Gereja merujuk pada Gereja Katolik.
salam.
Maka
Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila
kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap
hatimu."(Mat 18:35)
Segala sesuatu bergantung pada segenap
"hati". Bila kita disakiti oleh kesalahan orang lain. Kita tidak
memiliki kuasa untuk menghentikan rasa sakit itu dengan demikian kita
juga tidak dapat melupakan kesalahan orang lain. Tetapi ada hal yang pasti mampu kita lakukan yaitu:
1. Membuka diri terhadap Roh Kudus.
2. Dengan demikian menjadikan luka di hati ini sebuah belas kasihan di hadapan Tuhan.
3. Menjadikan luka di hati itu doa syafaat bagi orang yang menyakiti kita.
4. Hingga kita dapat memurnikan pikiran yang menghakimi menjadi pikiran yang rahim.
salam.
Kekuasaan Kunci melepaskan dan tidak melepaskan dosa,
suatu anugerah Tuhan yang tak ternilai, namun banyak diabaikan.
"Bapa-bapa suci benar dengan menamakan Sakramen Tobat semacam
pembaptisan dengan susah payah (Gregorius dari Nasiansa, th 329 – 389).
... Tetapi Sakramen Pengakuan ini memang perlu bagi mereka yang jatuh
sesudah Pembaptisan, seperti Pembaptisan sendiri juga perlu untuk yang
belum dilahirkan kembali" (Konsili Trente: DS 1672).
Oleh Sakramen Pengakuan, orang yang dibaptis dapat diperdamaikan dengan Allah dan dengan Gereja.
"Gereja telah menerima kunci Kerajaan surga, supaya di dalam dia
pengampunan dosa dapat terjadi oleh darah Kristus dan oleh karya Roh
Kudus. Di dalam Gereja jiwa yang mati karena dosa hidup lagi, supaya
hidup bersama Kristus, yang rahmat-Nya menyelamatkan kita" (Agustinus,
th 354 – 430).
Tidak ada satu kesalahan, bagaimanapun jahatnya,
yang tidak dapat diampuni oleh Gereja kudus. "Tidak mungkin ada seorang
manusia, yang begitu jahat dan terbuang, sehingga baginya tidak ada
harapan pasti untuk pengampunan, apabila ia benar-benar menyesali
kesalahannya" (Catech. R. 1, 11,5). Kristus yang wafat untuk semua
manusia mau, bahwa di dalam Gereja-Nya pintu pengampunan selalu terbuka
bagi orang yang berbalik dari dosa Bdk. Mat 18:21-22.
"Tuhan
menghendaki bahwa murid-murid-Nya memiliki kuasa besar; Ia menghendaki,
agar pelayan-pelayan-Nya yang hina itu atas nama-Nya melaksanakan apa
saja, yang telah Ia lakukan sewaktu Ia hidup di dunia (Ambrosius, th 339
- 397).
"Para imam telah menerima kuasa, yang Allah tidak
berikan baik kepada para malaikat maupun kepada para malaikat agung...
Tuhan mengukuhkan di atas sana segala sesuatu, yang para imam lakukan di
atas dunia ini" (Yohanes Krisostomus, th 345-407).
"Seandainya
di dalam Gereja tidak ada pengampunan dosa, maka tidak ada harapan atas
kehidupan abadi dan pembebasan abadi. Berterima kasihlah kita kepada
Allah, yang memberikan anugerah yang demikian itu kepada Gereja-Nya"
(Agustinus, th 354 – 430).
Sesudah kebangkitan-Nya Kristus
mengutus para Rasul-Nya, untuk "menyampaikan berita tentang pertobatan
kepada segala bangsa mulai dari Yerusalern" (Luk 24:47). Karena itu para
Rasul dan para penggantinya melaksanakan "pelayanan pendamaian" (2 Kor
5:18): Pada satu pihak mereka mewartakan kepada manusia pengampunan oleh
Allah, yang telah diperoleh Kristus bagi kita, dan menghimbau untuk
bertobat dan beriman. Pada lain pihak mereka sungguh menyampaikan
pengampunan dosa melalui Pembaptisan dan mendamaikan orang dengan Allah
dan dengan Gereja berkat kuasa kunci yang diterimanya dari Kristus.
Gereja harus berusaha membangkitkan dan mempertahankan dalam diri umat
beriman, iman kepada anugerah yang tidak ternilai ini, yang telah
diberikan oleh Kristus yang bangkit kepada Gereja-Nya: tugas dan kuasa,
untuk benar-benar mengampuni dosa-dosa melalui pelayanan para Rasul dan
para penggantinya
(KGK 981-983)
salam.
Minggu, 11 Maret 2012
Kamu bukan anak dunia tetapi sudah diilahikan menjadi anak Allah. Jadi peganglah hukum ilahi bukan hukum dunia. Mengapa di agama lain perceraian diperbolehkan, bahkan di perjanjian lama pun tidak dilarang? Karena sebelum Yesus datang dan memberikan Roh KudusNya, kita adalah ciptaan kodrati. Jadi wajar bila berpegang pada hukum kodrati: mata ganti mata, gigi ganti gigi. Tetapi setelah Yesus memberi hukum yang baru, yang ilahi dan mencurahkan Roh Kudus kepada kita, sewajarnya sebagai anak Allah yang ilahi, kita memegang hukum yang ilahi juga, termasuk pro life, no kontrasepsi, no abortion, no gay marriage
Sabtu, 10 Maret 2012
HAL MENOLAK GODAAN
Selama kita hidup di dunia ini, tak mungkin kita luput atau bebas dari penderitaan dan godaan. oleh sebab itu tertulislah dalam kitab Ajub :
Pencobaan adalah hidup manusia di atas dunia (Ayub 7:1)
Oleh karena itu setiap orang wajib waspada terhadap godaan-godaan dan berjaga-jaga serta berdoa, agar supaya setan vang tidak pernah tidur melainkan berkeliling serta mencari siapa yang dapat ditelannya (l Ptr: 5,8) tidak mendapat kesempatan untuk memperdayakanakannya.
Tak ada seorangpun yang sempurna dan suci, sehingga dia tidak pernah digoda. Tak mungkin kita terlepas sama sekali daripada godaan.
2. Tetapi godaan-godaan itu biarpun sukar dan berat, seringkali sangatlah berguna bagi manusi'a, sebab karena semua itu manusia menjadi rendah hati,bersih, lagi pula menerima pelajaran.
Semua orang kudus telah mengalami banyak percobaan serta godaan dan oleh karena itu mereka memperoleh perkembangan rohani. Mereka yang tidak kuat mengadakan perlawanan terhadap godaan telah terbuang dan hanyut. Tak ada satupun ordo (konggregasi) yang begitu suci, atau tempat yang begitu terpencil dan sunyi, sehingga di situ orang bebas dari godaan dan kesusahan hidup.
3. Selama manusia hidup di dunia ini, selama itu tiada pernah dia bebas dari godaan. Sebab godaan itu bersumber di dalam diri kita sendiri : karena manusia dilahirkan di dalam keinginan daging. Baru saja godaan yang satu berlalu, maka sudah muncullah percobaan yang lain, dan begitu terus-menerus ada-ada saja yang kita alami, karena hak menikmati keadaan bahagia yang semula kita miliki sudah lenyap. Banyak orang yang berusaha menghindari percoba an-percobaan itu, tetapi akibatnya dia justru malah jatuh lebih dalam tertimpa godaan-godaan tersebut. Dengan jalan menghihdar saja, kita tak akan menang. Tetapi dengan sabar dan rendah hati yang sesungguhnya kita akan menguasai semua musuh kita.
4. Barangsiapa hanya lahirnya saja menyingkiri kejahatan, tetapi tidak memberantasnya sampai ke akar-akarnya, maka dia hanya sedikit mencapai kemajuan, malahan godaan akan lebih cepat menyerangnya kembali dan dia akan merasa lebih menderita. Dengan perlahan-lahan, dengan penuh kesabaran dan ketenangan hati, serta dengan pertolongan Allah, kita akan lebih mudah dapat mengalahkan musuh-musuh kita, daripada dengan kekerasan dan kebengisan terhadap diri kita sendiri.
Hendaklah kita seringkali minta nasihat, bila kita sedang di serang godaan-godaan dan janganlah kita bertindak keras terhadap mereka yang sedang mengalami mi percobaan, tetapi hiburlah mereka itu seperti kita sendiri ingin diperlakukan oleh orang lain.
5. Pangkal segala kejahatan pada godaan itu terletak pada ketidak-tenteraman batin kita dan pada kurang kepercayaan kita akan Tuhan. Sebab ibarat sebuah kapal yang tak berkemudi terombang-ambing oleh gelombang kesana-kemari, demikian pulalah orang yang lemah dan kurang tenang, serta tidak sanggup meneruskan maksudnya, terjerat
dalam pelbagai godaan. Api menguji besi dan godaan menguji orang yang saleh.
Kita tidak mengetahui kekuatan kita, tetapi percobaan menunjukkan sampai di manakah kesanggupan kita.
Oleh karena itu kita harus waspada, lebih-lebih pada permulaan godaan. Sebab demikian musuh akan lebih mudah dikalahkan, bila ia sama sekali tidak kita perbolehkan memasuki pintu gerbang jiwa kita, tetapi segera kita usir ketika dia mengetuk pintu.
Seorang pujangga pernah menulis sebagai berikut :
"Dari awal adakanlah perlawanan yang pesat sebab datangnya obat akan terlambat
Bila karena terlalu lengah penyakit telah menjadi payah" (Ovid.De Remed. II,91)
Mula-mula di dalam hati kita memang hanya timbul sebuah pikiran biasa saja, kemudian dengan giat muncullah angan-angan kita, selanjutnya rasa lezat, lalu keinginan jahat, dan pada akhirnya persetujuan kita.
Demikianlah lambat-laun musuh yang jahat itu akan menguasai jiwa kita seluruhnya, jika pada permulaan dia tidak segera kita lawan. Dan makin lama orang melalaikan perlawanan, semakin lemahlah keadaan batinnya. sebaliknya semakin kuatlah kedudukan si musuh.
6. Sementara orang menderita godaan paling hebat pada waktu permulaan bertobatnya kepada Tuhan, sedang orang lain pada akhir hidupnya. Orang lain lagi selama hidupnya seakan-akan selalu mengalami penderitaan digoda dan dicoba. Tetapi ada juga orang yang hanya mengalami percobaan yang ringan. Itu semua sesuai dengan kebijaksanaan dan keadilan Tuhan. Sebab Tuhanlah yang menimbang-nimbang kekuatan dan jasa masing-masing orang dan mengatur semuanya, untuk kebahagiaan orang-orang yang dipilihNya.
7. Karena itu tak usah kita putus asa, bila kita mendapat cobaan; tetapi hendaklah kita lebih giat berdoa kehadlirat Tuhan, agar Tuhan sudi membantukita dalam segala cobaan. Sebab menurut kata-kata St. Paulus : "Dengan adanya godaan Ia iuga ahan memberi jalan untuk keluar (7 Kor. 10.13), hingga kita tetapdapat berdiri. Hendaklah kita merendahkan diri kita di bawah pimpinan Tuhan, bila kita menderita godaan dan percobaan : sebab Tuhan akan tnenolong mereka yang rendah hati dan memuliakannYa.
8. Dalam godaan dan cobaan orang diuji sampai di mana ia telah mencapai kemajuan, karena itu ia mendapat lebih banyak anugerah dan tampak lebih terang kebajikannya. Bukanlah hal yang luar biasa, bila seseorang tinggal saleh dan bernyala-nyala erajinannya selama ia tidak mengalami kesukaran-kesukaran, tetapi apabila dalam waktu percobaan ia tetap tinggal sabar, maka sungguh ada harapan baginya, bahwa ia akan mengalami pertumbuhan rohani Yang subur.
Sementara orang terhindar dari godaan-godaan yang besar, tetapi seringkali mereka itu mengalami ke dalam perkara yang kecil-kecil dalam hidupnya sehari-hari. Hal ini maksudnya agar dalam menghadapi hal-hal yang kecil itu mereka tetap rendah hati dan dalam menghadapi soal yang besar-besar mereka sekali-kali tidak akan percaya kepada kekuatan diri sendiri, sebab dalam hal yang kecil-kecil saja telah terbukti, bahwa
mereka mengalami kekalahan.
Sumber: "Mengikuti jejak Kristus"
salam.
Selama kita hidup di dunia ini, tak mungkin kita luput atau bebas dari penderitaan dan godaan. oleh sebab itu tertulislah dalam kitab Ajub :
Pencobaan adalah hidup manusia di atas dunia (Ayub 7:1)
Oleh karena itu setiap orang wajib waspada terhadap godaan-godaan dan berjaga-jaga serta berdoa, agar supaya setan vang tidak pernah tidur melainkan berkeliling serta mencari siapa yang dapat ditelannya (l Ptr: 5,8) tidak mendapat kesempatan untuk memperdayakanakannya.
Tak ada seorangpun yang sempurna dan suci, sehingga dia tidak pernah digoda. Tak mungkin kita terlepas sama sekali daripada godaan.
2. Tetapi godaan-godaan itu biarpun sukar dan berat, seringkali sangatlah berguna bagi manusi'a, sebab karena semua itu manusia menjadi rendah hati,bersih, lagi pula menerima pelajaran.
Semua orang kudus telah mengalami banyak percobaan serta godaan dan oleh karena itu mereka memperoleh perkembangan rohani. Mereka yang tidak kuat mengadakan perlawanan terhadap godaan telah terbuang dan hanyut. Tak ada satupun ordo (konggregasi) yang begitu suci, atau tempat yang begitu terpencil dan sunyi, sehingga di situ orang bebas dari godaan dan kesusahan hidup.
3. Selama manusia hidup di dunia ini, selama itu tiada pernah dia bebas dari godaan. Sebab godaan itu bersumber di dalam diri kita sendiri : karena manusia dilahirkan di dalam keinginan daging. Baru saja godaan yang satu berlalu, maka sudah muncullah percobaan yang lain, dan begitu terus-menerus ada-ada saja yang kita alami, karena hak menikmati keadaan bahagia yang semula kita miliki sudah lenyap. Banyak orang yang berusaha menghindari percoba an-percobaan itu, tetapi akibatnya dia justru malah jatuh lebih dalam tertimpa godaan-godaan tersebut. Dengan jalan menghihdar saja, kita tak akan menang. Tetapi dengan sabar dan rendah hati yang sesungguhnya kita akan menguasai semua musuh kita.
4. Barangsiapa hanya lahirnya saja menyingkiri kejahatan, tetapi tidak memberantasnya sampai ke akar-akarnya, maka dia hanya sedikit mencapai kemajuan, malahan godaan akan lebih cepat menyerangnya kembali dan dia akan merasa lebih menderita. Dengan perlahan-lahan, dengan penuh kesabaran dan ketenangan hati, serta dengan pertolongan Allah, kita akan lebih mudah dapat mengalahkan musuh-musuh kita, daripada dengan kekerasan dan kebengisan terhadap diri kita sendiri.
Hendaklah kita seringkali minta nasihat, bila kita sedang di serang godaan-godaan dan janganlah kita bertindak keras terhadap mereka yang sedang mengalami mi percobaan, tetapi hiburlah mereka itu seperti kita sendiri ingin diperlakukan oleh orang lain.
5. Pangkal segala kejahatan pada godaan itu terletak pada ketidak-tenteraman batin kita dan pada kurang kepercayaan kita akan Tuhan. Sebab ibarat sebuah kapal yang tak berkemudi terombang-ambing oleh gelombang kesana-kemari, demikian pulalah orang yang lemah dan kurang tenang, serta tidak sanggup meneruskan maksudnya, terjerat
dalam pelbagai godaan. Api menguji besi dan godaan menguji orang yang saleh.
Kita tidak mengetahui kekuatan kita, tetapi percobaan menunjukkan sampai di manakah kesanggupan kita.
Oleh karena itu kita harus waspada, lebih-lebih pada permulaan godaan. Sebab demikian musuh akan lebih mudah dikalahkan, bila ia sama sekali tidak kita perbolehkan memasuki pintu gerbang jiwa kita, tetapi segera kita usir ketika dia mengetuk pintu.
Seorang pujangga pernah menulis sebagai berikut :
"Dari awal adakanlah perlawanan yang pesat sebab datangnya obat akan terlambat
Bila karena terlalu lengah penyakit telah menjadi payah" (Ovid.De Remed. II,91)
Mula-mula di dalam hati kita memang hanya timbul sebuah pikiran biasa saja, kemudian dengan giat muncullah angan-angan kita, selanjutnya rasa lezat, lalu keinginan jahat, dan pada akhirnya persetujuan kita.
Demikianlah lambat-laun musuh yang jahat itu akan menguasai jiwa kita seluruhnya, jika pada permulaan dia tidak segera kita lawan. Dan makin lama orang melalaikan perlawanan, semakin lemahlah keadaan batinnya. sebaliknya semakin kuatlah kedudukan si musuh.
6. Sementara orang menderita godaan paling hebat pada waktu permulaan bertobatnya kepada Tuhan, sedang orang lain pada akhir hidupnya. Orang lain lagi selama hidupnya seakan-akan selalu mengalami penderitaan digoda dan dicoba. Tetapi ada juga orang yang hanya mengalami percobaan yang ringan. Itu semua sesuai dengan kebijaksanaan dan keadilan Tuhan. Sebab Tuhanlah yang menimbang-nimbang kekuatan dan jasa masing-masing orang dan mengatur semuanya, untuk kebahagiaan orang-orang yang dipilihNya.
7. Karena itu tak usah kita putus asa, bila kita mendapat cobaan; tetapi hendaklah kita lebih giat berdoa kehadlirat Tuhan, agar Tuhan sudi membantukita dalam segala cobaan. Sebab menurut kata-kata St. Paulus : "Dengan adanya godaan Ia iuga ahan memberi jalan untuk keluar (7 Kor. 10.13), hingga kita tetapdapat berdiri. Hendaklah kita merendahkan diri kita di bawah pimpinan Tuhan, bila kita menderita godaan dan percobaan : sebab Tuhan akan tnenolong mereka yang rendah hati dan memuliakannYa.
8. Dalam godaan dan cobaan orang diuji sampai di mana ia telah mencapai kemajuan, karena itu ia mendapat lebih banyak anugerah dan tampak lebih terang kebajikannya. Bukanlah hal yang luar biasa, bila seseorang tinggal saleh dan bernyala-nyala erajinannya selama ia tidak mengalami kesukaran-kesukaran, tetapi apabila dalam waktu percobaan ia tetap tinggal sabar, maka sungguh ada harapan baginya, bahwa ia akan mengalami pertumbuhan rohani Yang subur.
Sementara orang terhindar dari godaan-godaan yang besar, tetapi seringkali mereka itu mengalami ke dalam perkara yang kecil-kecil dalam hidupnya sehari-hari. Hal ini maksudnya agar dalam menghadapi hal-hal yang kecil itu mereka tetap rendah hati dan dalam menghadapi soal yang besar-besar mereka sekali-kali tidak akan percaya kepada kekuatan diri sendiri, sebab dalam hal yang kecil-kecil saja telah terbukti, bahwa
mereka mengalami kekalahan.
Sumber: "Mengikuti jejak Kristus"
salam.
Langganan:
Komentar (Atom)




