Ilham Kitab Suci
(Karl Keating)
(Karl Keating)
Menurut kelompok Reformis, Kitab suci
adalah satu-satunya sumber kebenaran iman. Tidak ada otoritas luar yang boleh
memberikan penafsiran, dan tidak ada otoritas luar, seperti Gereja, yang
ditetapkan Kristus sebagai wasit[1]. Sebagai ahli waris kaum Reformis, kaum
Fundamentalis mendasarkan pemikiran dan hidup mereka pada prinsip sola
scriptura[2], dan mereka mengemukakan pandangan ini dalam berbagai kesempatan.
Orang mungkin berpikir bahwa mudah bagi
kaum Fundamentalis untuk menjelaskan mengapa mereka percaya prinsip ini.
Sayangnya, ternyata sukar meminta kaum Fundamentalis menjelaskan mengapa mereka
menjadikan Kitab Suci sebagai satu-satunya sumber kebenaran iman. Hal itu
menimbulkan pertanyaan mengapa dan dalam arti apa kaum Fundamentalis mengakui Kitab
Suci sebagai kitab yang diilhami, karena Kitab Suci bisa dijadikan sebagai
sumber kebenaran iman hanya bila pertama-
tama diyakini bahwa Kitab Suci itu diilhami
dan karena itu tidak bisa salah.
Hal itu tidak menarik perhatian banyak
orang Kristen dewasa ini. Mereka tidak memberikan perhatian yang serius
terhadap masalah ini. Sedikit
banyak mereka percaya dan menerima Kitab Suci karena mereka hidup dalam suatu
lingkungan yang masih dipengaruhi cara berpikir Kristen. Seorang Kristen yang
agak acuh tak acuh sekalipun akan berpikir dua kali untuk menjelek-jelekkan atau
menolak Kitab Suci. Mengakui Kitab Suci memberi suatu status resmi tertentu
kepadanya, meskipun ia tidak bisa menjelaskannya. Mungkin ada yang mengatakan
bahwa ia mengakui Kitab Suci diilhami (apa pun artinya itu bagi dia) karena
beberapa alasan 'kultural', tetapi tentu itu bukan alasan yang cukup, karena
dengan dasar seperti itu, kitab suci lain pun bisa dianggap sebagai kitab yang
diilhami.
Juga tidak cukup
mengatakan bahwa itu sudah dipercaya oleh keluarga. Mungkin
itu cukup bagi orang yang enggan untuk berpikir. Seseorang tidak boleh meremehkan iman sekecil apa pun,
sekalipun diiandasi oleh suatu alasan yang sangat lemah. Namun, kebiasaan tidak
dapat menjadi alasan seseorang menerima Kitab Suci diilhami.
Beberapa kaum
Fundamentalis mengatakan mereka percaya Kitab Suci diilhami karena Kitab Suci
"memberikan inspirasi". Tetapi "memberikan inspirasi"
memiliki arti ganda. Di satu pihak, bila itu digunakan dalam arti teologis yang
sempit, akan memunculkan pertanyaan: Bagaimana kita mengetahui bahwa Kitab Suci
diilhami, "ditulis" oleh Allah, tetapi melalui penulis manusia? Bila
"memberikan inspirasi" berarti tidak lebih dari "memberi
semangat" atau "menggugah" maka orang yang memiliki sedikit rasa
puitis akan menganggap karya-karya para penyair juga diilhami.
Bagian-bagian
tertentu dari Kitab Suci tidak dapat dikatakan "memberikan inspirasi”,
paling tidak dalam pengertian seperti di atas.[3] Bila seseorang menganggap
beberapa bagian dari Kitab Suci membosankan, itu tidak berarti dia meremehkan
Kitab Suci - memang ada beberapa bagian dalam Kitab Suci sangat membosankan
seperti membaca angka-angka statistik - dan ada sedikit yang bisa menggugah
emosi.
Jadi, tidak cukup
percaya Kitab Suci diilhami hanya karena budaya atau kebiasaan, atau karena itu
sebuah buku yang ditulis dengan baik dan membangkitkan emosi. Ada beberapa buku rohani lainnya, dan
bahkan beberapa buku sekuler, yang jauh melampaui sebagian besar Kitab Suci.
Bagaimana pandangan
Kitab Suci sendiri mengenai ilham? Tidak banyak diiemukan teks-teks yang secara
tegas menunjukkan hal itu, dan sebagian besar kitab dalam Perjanjian Lama dan perjanjian
Baru sama sekali tidak menyatakan hal itu. Sebenarnya,
telah ada penulis
Perjanjian Baru yang menyadari bahwa ia menulis atas dorongan Roh Kudus,
kecuali penulis Kitab Wahyu. Lagi pula' sekalipun setiap kitab dalam Kitab Suci
diawali dengan pernyataan "kitab ini diilhami", pernyataan seperti
itu tidak membuktikan
apapun.Kitab-kitab
suci lain pun mengatakan diilhami. Bahkan, tulisan-tulisan
Mary Baker Eddy, pendiri christian Science, dianggap diilhami. Pengakuan
diilhami saja tidak cukup untuk menempatkan sebuah buku itu dapat dipercaya' Karena
belum ada pendapat yang meyakinkan, kaum Fundamentalis kembali pada pandangan
bahwa "Roh Kuduslah
yang menyatakan Kitab Suci diilhami",
suatu pandangan yang sama dengan pernyataan mereka bahwa Roh Kudus membimbing mereka
dalam menafsir teks. Misalnya, penulis buku How Can I understand the Bible?, sebuah
buku yang diedarkan oleh Radio
Bible class,
menampilkan dua belas cara belajar Kitab suci. Pertama-tama, "mintalah bantuan Roh Kudus. Roh
Kudus telah diberikan untuk menerangi Kitab suci dan membuatnya hidup ketika
Anda mempelaj arinya. Pasrahlah pada penerangan-Nya'" Bila ini dipahami
bahwa setiap orang yang meminta sebuahpenafsiran yang benar akan diberikan oleh
Allah- dan persis seperti itulah kaum Fundamentalis memahami cara kerja bantuan
Roh Kudus- maka bermacam-macam tafsiran, bahkan di antara kaum Fundamentalis
sendiri, akan menghasilkan anggapan yang mengganggu bahwa Roh Kudus tidak
berhasil dalam melakukan tugasNya.
Kebanyakan kaum
Fundamentalis tidak mengatakan bahwa Roh Kudus telah berbicara langsung kepada
mereka' meyakinkan mereka bahwa Kitab suci diilhami. Agaknya, dalam membaca
Kitab Suci mereka 'percaya' bahwa itu adalah sabda Allah' mereka
'merasa'bahwa itu
diilhami, dan hanya itu - yang sering kali mengurangi penerimaan mereka
terhadap Kitab Suci hanya karena budaya atau kebiasaan saja. Pandangan kaum Fundamentalis tidak bisa
dipertanggungjawabkan. Tentu ada beberapa orang
Fundamentalis
yang mencari argumentasi dengan pertama-tama mendekati Kitab Suci seakan-akan
itu sebuah buku biasa yang tidak diilhami, dan kemudian, dalam membacanya,
menarik kesimpulan demikian. Sebetulnya, kaum Fundamentalis bertolak
dari fakta ilham
- sebagaimana mereka menerima ajaran-ajaran Fundamentalisme lainnya apa adanya,
bukan sebagai hasil kesimpulan - dan kemudian mereka menemukan sesuatu dalam Kitab
Suci yang kelihatannya mendukung ilham sehingga mengatakan, dengan argumentasi
yang berbelit-belit, bahwa Kitab Suci menegaskan sendiri bahwa dirinya diilham.
Orang yang
berusaha memahami ilham dengan menggunakan pendekatan Fundamentalis tidak puas
karena ia mengetahui ia tidak memiliki dasar yang kuat bagi kepercayaannya.
Pandangan Katolik akhirnya menjadi satu-satunya pandangan yang bisa diterima
kaum intelektual pada umumnya. Metode orang Katolik untuk mengetahui apakah
Kitab Suci diilhami adalah sebagai berikut: Kitab Suci pertama-tama dilihat
sebagai salah satu karya
tulis kuno. Jadi,
Kitab Suci bukan pertama-tama dilihat sebagai sesuatu yang diilhami.
Berdasarkan kritik-kritik teks, kita bisa menarik kesimpulan bahwa teks-teks
Kitab Suci jauh lebih akurat daripada teks-teks kuno lainnya.
Frederik Kenyon
mencatat sebagai berikut.
Semua karya klasik yang kita miliki bergantung
pada manuskrip - manuskrip yang ditulis jauh lebih kemudian dari karangan
aslinya. Contoh yang paling tepat adalah penulis
Virgil. Manuskrip Virgil yang pertama yangkita
miliki ditulis kurang lebih 350 tahun setelah ia wafat. Bagi penulis-penulis klasik
lainnya, jarak waktu antara masa hidup dan kemunculan manuskrip mereka yang
pertama malah jauh lebih besar. Livy 500 tahun, Horace 900 trhun, Plato 1300
tahun, dan Euripides 1600 tahun.[4]
Meskipun
demikian, tidak ada yang membantah,bahwa kita memiliki salinan-salinan yang
sangat akurat dari karya-karya para penulis klasik ini. Kita tidak saja
memiliki manuskrip-manuskrip biblis yang jauh lebih tua dari karya-karya para
penulis klasik,
tetapi juga
memiliki jauh lebih banyak manuskrip. Beberapa di antaranya adalah seluruh
kitab dalam Kitab suci, yang lainnya fragmen-fragmen yang berisi beberapa kata
saja, tetapi ada ribuan manuskrip dalam bahasa Ibrani, yunani, Latin, Koptik,
Siria, serta
bahasa lainnya.
Ini berarti kita bisa memastikan bahwa kita rnemiliki teks yang sangat akurat.
Selanjutnya, kita
memperhatikan apa yang dikatakan Kitab Suci, yang dianggap hanya sebagai sebuah
buku sejarah, kepada kita, khususnya Injil. Kita melihat cerita tentang hidup,
wafat, dan kebangkitan yesus. Berdasarkan apa yang
terdapat dalam Injil,
dan apa yang kita temukan dalam
tulisan-tulisan non biblis dari abad-abad pertama, serta apa yang kita ketahui
mengenai kodrat manusia (dan apa yang dapat kita ketahui, dari teologi, tentang
kodrat ilahi), kita menyimpulkan entahkah Yesus itu Allah sebagaimana
dinyatakan-Nya atau orang gila. (Satu hal yang kita ketahui bahwa Ia tidak
mungkin hanya seorang manusia yang baik yang bukan Allah, sebab tidak ada
seorang manusia yang baik dapat membuat pernyataan seperti yang dilakukan-Nya.)
Kita bisa menolak pandangan bahwa Ia orang
gila, bukan saja berdasarkan apa yang Ia katakan - sebab tidak ada orang gila
yang pernah berbicara seperti Dia; juga tidak ada orang sehat yang membuat hal
serupa - tetapi juga dari apa yang telah dilakukan para pengikut-Nya setelah
kematian-Nya. Ada yang
menganggap makam kosong sebagai cerita bohong, meskipun tidak ada orang yang
rela mati demi suatu kebohongan, atau demi sesuatu yang tidak membawa
keuntungan. Dari argumentasi-argumentasi inikita harus menyimpulkan bahwa yesus
benar-benar bangkit dari kematian dan karena itu, Ia adalah Allah dan, sebagai
Allah, Ia bersungguh-sungguh dengan apa yang dikatakan-Nya dan melakukan apa
yang dikatakan-Nya
Satu hal yang Ia
katakan dan dilakukan-Nya adalah mendirikan Gereja. Dari Kitab Suci (yang
dilihat hanya sebagai buku sejarah dan bukan sebagai buku yang diilhami) dan
karya-karya kuno lainnya, kita mengetahui bahwa Kristus mendirikan sebuah
Gereja dengan dasar-dasar yang kita temukan dalam Gereja Katolik saat ini -
kepausan, hierarki, imamat, sakramen-sakramen, kuasa mengajar dan,
konsekuensinya, infalibilitas (tidak dapat salah). untuk melakukan apayangtelah
Ia perintahkan, Gereja Kristus harus memiliki infalibilitas
Kita telah
menggunakan materi sejarah murni dan menyimpulkan bahwa ada sebuah Gereja,
yakni Gereja Katolik, yang mendapat perlindungan ilahi agar tidak salah
mengajar. Kini kita sampai pada bagian akhir argumentasi kita. Gereja mengajarkan
kepada kita bahwa Kitab Suci diilhami, dan kita mengakui ajaran Gereja itu
benar karena Gereja tidak dapat salah mengajar. Baru setelah dikatakan oleh
suatu otoritas yang diakui
sah (yakni suatu
otoritas yang didirikan Allah untuk menjamin kebenaran soal iman) bahwa Kitab
Suci diithami, kita mulai mengakui dan menggunakannya sebagai sebuah kitab yang
diilhami.
Arnold Lunn menuliskannya
dalam sebuah surat kepada C.E.M Joad pada tahun 1932.
Kini kita mendekati Kitab Suci dan kita
mendekatinya dengan semangat yang sama ketika mendekati dokumen-dokumen biasa
lainnya. Kta tidak percaya Ktab Suci hanya karena itu adalah Kitab Suci, tetapi
karena kita yakin akan kebenarannya melalui kesimpulan-kesimpulan rasional sama
seperti kesimpulan-kesimpulan yang meyakinkan kita akan fakta-fakta historis
lainnya. Misalnya, kita tidak menerima fakta bahwa Kristus bangkit dari
kematian hanya karena kebangkitan itu diceritakan dalam injil; kita menerima kebangkitan
karena, dari semua teori yang telah dikemukakan untuk menjelaskan asal-usul
Kekristenan, satu- satunya teori yang sesuai dengan semua fakta adalah teori
bahwa Yesus dari Nazaret menyatakan diri sebagai Allah dan membuktikan
pernyataan-Nya itu dengan bangkit dari kematian .... Kemudian, orang-orang
Katolik Roma menegaskan bukti dari Ktab Suci, yang masih dianggapnya sebagai
dokumen biasa, bahwa Kristus bermaksud mendirikan sebuah Gereja yang tidak
dapat salah mengajar. Manakah Gereja yang dimaksud? Orang Katolik percaya bahwa
Gereja Katolik Roma sendiri memiliki semua " Catatan" yang membuat
kita bisa membedakan antara Gereja yang didirikan Kristus dan lawan-lawan
bidaahnya. Orang Katolik perlu membuktikan dengan argumentasi yang kuat bahwa Kristus
adalah Allah, bahwa Kristus telah mendirikan Gereja yang tidak bisa salah
mengajar, dan bahwa Gereja Katolik
Roma adalah Gereja yang dimaksudkan. Setelah
sedemikian
jauh menggunakan akal budi tanpa bantuan otoritas rasanya
bukan sesuatu yang irasional mempercayakan kepada otoritas, yang mandatnya
telah terbukti secara rasional, untuk menafsirkan teks-teks yang sulit dalam Kitab
Suci.[5]
Ingat bahwa ini bukanlah sebuah argumen
yang berbelit-belit. Kita
tidak mendasarkan ilham Kitab Suci pada infalibilitas Gereja dan pada kata-kata Kitab Suci.
Argumentasi kita
bersifat spiral. Pada tahap pertama kita menunjukkan kebenaran Kitab suci
sebagai fakta sejarah. Dari situ kita simpulkan bahwa Gereja yang tidak dapat
salah mengajar itu didirikan. Lalu, kita menggunakan ajaran Gereja yang tidak bisa
salah mengajar itu untuk mengatakan bahwa Kitab suci diilhami. Dari situ muncul
sebuah dalil bahwa tanpa adanya Gereja, kita tidak dapat mengatakan Kitab Suci
diilhami. Santo Agustinus mengatakan, "Saya belum tentu percaya pada Injil
jika otoritas Gereja Katolik tidak mendorong saya untuk berbuat
demikian."[6]
Jelas, apa yang
baru saja diuraikan bukanlah semacam persiapan mental yang harus dilalui
sebelum mempercayai Kitab suci. Namun, itu adalah satu-satunya cara yang masuk
akal untuk mempercayai Kitab suci. Cara-cara lain lebih rendah mutunya - mungkin secara psikologis memadai,
tetapi dari segi kualitas sebenarnya tidak demikian. Dalam matematika kita
menerima "kebenaran" satu ditambah satu sama dengan dua, dan dua bila
ditambahkan pada bilangan buiat lain akan menghasilkan bilangan bulat yang
lebih tinggi. Kebenaran-kebenaran ini kelihatannya sangat mendasar bagi kita
dan kita puas menerima hal-hal semacam itu begitu saja, tetapi murid-murid
matematika harus mengikuti rangkaian pelajaran yang membahas kebenaran- kebenaran
yang "jelas" seperti itu. Kaum Fundamentalis benar mempercayai bahwa
Kitab Suci dilhami, namun alasan mereka tidak memadai, karena pengetahuan
tentang ilham Kitab Suci hanya dapat didasarkan pada suatu otoritas yang didirikan
Allah untuk mengajarkan kepada kita bahwa Kitab suci itu diilhami, dan otoritas
itu adalah Gereja.
Di sini muncul
suatu persoalan yang lebih serius. Bagi beberapa orang, rupanya ada sedikit
perbedaan mengapa seseorang percaya bahwa Kitab suci itu diilhami. Namun, alasan mendasar mengapa seseorang
percaya pada ilham mempengaruhi secara langsung cara dia menginterpretasi Kitab
suci. Orang Katolik percaya bahwa Kitab Suci diilhami karena Gereja mengajarkan
demikian - mengatakannya secara tegas - dan Gereja yang sama mempunyai otoritas
untuk menginterpretasi teks yang diilhami. Kaum Fundamentalis percaya pada
ilham, sekalipun dengan dasar yang kurang kuat, dan mereka tidak mempunyai
otoritas lain untuk menginterpretasi teks selain mereka sendiri. Dalam suatu tulisan tentang ilham yang
dipublikasikan tahun 1884, Newman mengatakan sebagai berikut.
Tentu, jika wahyu-wahyu dan ajaran-ajaran dalam
Kitab Suci dialamatkan kepada kita secara pribadi maka kehadiran seorang hakim
formal dan orang yang menjelaskan kata-katanya di antara kita sangat penting.
Tidak masuk akal menganggap bahwa sebuah buku yang demikian kompleks, tidak
sistematis, sebagiannya kabur, hasil dari banyak pemikiran, zaman, dan tempat,
diberikan dari atas kepada kita tanpa jaminan dari sebuah otoritas; seolah-olah
itu, dari kodratnya, bisa menginterpretasi dirinya sendiri. Keterilhamannya
memberikan jaminan atas kebenarannya, bukan atas interpretasinya. Bagaimana
para pembaca pribadi dapat membedakan dengan baik mana yangbersifat didaktis
dan mana yang bersifat sejarah, mana yang fakta dan mana yang khayalan, mana
perumpamaan dan mana yang sebenarnya, mana ungkapan/idiom dan mana tata bahasa,
mana yang diucapkan secara formal dan mana yang terjadi secara kebetulan, mana
kewajiban yang bersifat sesaat dan mana yang tetap? Hal
tersebut merupakan harapan alamiah kita, dan dibenarkan oleh
peristiwa-peristiwa dalam tiga abad terakhir, di banyak negara di mana
penilaian pribadi terhadap teks Kitab Suci telah tersebar luas. Anugerah
ilham memerlukan anugerah tak dapat salah mengajar sebagai pelengkapny a.[7]
J. Derek Holmes
menekankan:
Dalam semua argumentasinya, Newman tidak pernah mengabaikan
hal pokok bahwa karena tulisan-tulisan itu tidak teratur, tidak konsisten, dan
tidak lengkap maka sangat tidak mungkin ia memuat seluruh sabda Allah yang
diwahyukan. Kitab Suci tidak memuat sejarah dunia yang lengkap, dan tidak ada
alasan, ia mesti memuat cerita atau gambaran yang lengkap tentang kebenaran
religius. Tidak masuk aka menuntut suatu landasan biblis yang
memadai bagi ajaran-ajaran Gereja jika pikiran yang didapatkan dari Ktab suci adalah
pikiran dari para penulis yang menerima kebenaran- kebenaran yang penting dan
suci sebagaimana adanya dan yang tidak memberikan laporan yang lengkap atau
penuh tentang arti wahyu. Tulisan-tulisan yang tidak merefleksikan semua
kepercayaan dan kejadian yang dialami penulis sering dimasukkan tanpa komentar
atau implikasi moral.[8]
Pemahaman kaum
Fundamentalis tentang ilham berpengaruh secara langsung terhadap cara mereka menafsirkan
Kitab suci serta ajaran-ajaran yang mereka temukan di dalamnya. Banyak - bukan
semua mereka yang menulis risalah-risalah, tetapi beberapa dari mereka dan
tentu saja banyak di gereja - yang menyetujui teori pendiktean tentang ilham.
Ini patut disayangkan, karena "teori pendiktean' mungkin kelihatannya
sebagai sebuah cerita pengalaman para nabi, tetapi itu secara psikologis tidak
masuk akal ketika diterapkan pada santo Lukas yang menulis prolognya atau Santo
Paulus yang menulis surat kepada Filemon."[9] Satu contoh persoalan yang
dihadapi kaum Fundamentalis sehubungan dengan teori pendiktean atau
praktik-praktik serupa adalah ketika berhadapan dengan ayat-ayat seperti lKor
1:14-16. Paulus menulis sebagai berikut, "Aku mengucap syukur bahwa tidak
ada seorang pun juga di antara kamu yang aku baptis selain Krispus dan Gayus, sehingga
tidak ada orang yang dapat mengatakan bahwa kamu dibaptis dalam namaku. Juga keluarga Stefanus aku yang membaptisnya.
Kecuali mereka aku tidak tahu, entahkah ada lagi orang yang aku baptis."
Menurut teori pendiktean, karena Paulus hanya menulis apa yang dibisikkan Tuhan
di telinganya, orang berkesimpulan bahwa Allah kadang-kadang lupa siapa saja
yang dibaptis Paulus. Masih
ada banyak contoh lain yang menunjukkan bahwa ilham jauh lebih susah dipahami
daripada yang diperkirakan orang.
Persoalan lain
adalah bagaimana seorang Fundamentalis memutuskan bila terdapat banyak
interpretasi terhadap ayat tertentu, dan hanya satu yang dapat dibenarkan?
Gereja Katolik bersikap diam tentang mana interpretasi yang tepat atas banyak ayat
Kitab Suci; para pembaca boleh memilih salah satu dari sekian banyak pemahaman.
Sebagai contoh
kita ambil petualangan Nabi Yunus di laut. Menurut Ronald Knox, "Tidak
seorang pun pembela Kitab Suci pernah menganggap hal ini sebagai suatu
peristiwa biasa. Jika peristiwa itu terjadi, itu tentu sebuah mukjizat; dan
bagi saya tidak lebih menakjubkan daripada kebangkitan Lazarus yang sungguh dipercaya
oleh orang Katolik. Tentu yang membuat orang mempertanyakan cerita tentang
Yunus adalah unsur aneh yang ada di dalamnya." [10] Sebenarnya, apa yang terjadi
pada Yunus dapat dilihat dalam tiga cara, salah satunya percaya bahwa tidak
terjadi mukjizat sama sekali.
Interpretasi yang
sangat umum dewasa ini, dan diterima olehpara ekseget ortodoks, adalah bahwa
cerita tentang nabi yang ditelan dan kemudian dimuntahkan kembali oleh seekor
"ikan besar" hanyalah sebuah fiksi didaktik, sebuah cerita dongeng
yang diceritakan untuk menyampaikan suatu pesan religius. Orang Katolik bebas
untuk menerima pandangan ini atau pandangan yang lebih harfiah, tetapi kita
akan jarang mendapati seorang Fundamentalis yang menganggap kisah Yunus sebagai
alegori atau sejenisnya, walaupun ia sebenarnya tidak mempunya otoritas untuk memilih satu dari banyak
interpretasi.
Interpretasi yang
sungguh harfiah tentang apa yang terjadi dengan Yunus muncul daiam dua bentuk. Bentuk pertama, berdasarkan fakta bahwa
seseorang rupanya terah ditelan seekor ikan paus dan masih bertahan hidup. pada
tahun 1891, seorang pelaut bernama James Bartley, dari kapal star of the East, dilaporkan hilang. Ia diperkirakan tenggeram. pada hari berikutnya, awak kapal menangkap
seekor ikan paus dengan panjang delapan puluh kaki. Ketika awak kapal murai memotong ikan itu, Bartlei
ditemukan masih hidup di dalamnya." Jika keberadaan Yunus selama tiga hari
dalam perut ikan paus dipandang sama seperti keberadaan Kristus selama tiga
hari di dalam kubur maka sangat mungkin bahwa Yunus dimuntahkan keluar oleh
ikan besar itu persis seperti apa yang disampaikan dalam cerita tentangnya. Ini
merupakan penjelasan yang lazim tentang peristiwa itu.
Interpretasi
harfiah rainnya ialah bahwa Yunus benar mengalami peristiwa itu, tetapi
bertahan hidup karena suatu keajaiban yang meyakinkan. Ada beberapa kemungkinan
keajaiban yang bisa terjadi, seperti Yunus yang mati suri atau seekor ikan yang
mempunyai kantong udara yang sangat besar dan cairan lambung yang sangat encer.
Persoalan yang
juga berhubungan dengan ilham ialah persoalan kanon Kitab Suci. Kitab-kitab
mana saja yang termasuk Kitab Suci? Orang Katolik bisa merujuk pada keputusan-keputusan
Gereja, yang dirumuskan dengan sangat jelas
di Trente dan dalam konsili Hippo dan Kartago pada abad keempat. Konsili- konsili
ini, berdasarkan otoritas Gereja yang tidak bisa salah mengajar, mengeluarkan
daftar kitab yang diterima sebagai yang diilhami. Kitab-kitab yang dilhami itu
disatukan menjadi Kitab Suci. Inilah cara orang Katolik menjawab pertanyaan
tadi. Bagaimana dengan kaum Fundamentalis?
William G. Most
berbicara tentang komentar-komentar yang agak mengejutkan dari Gerald Birney
Smith, profesor di Universitas Chicago dan pembicara dalam Kongres Baptis, pada
1910. Most mengatakan,
"Keterusterangan Smith sungguh luar biasa. Ia meninjau kembali cara-cara
ia menentukan kitab-kitab mana yang diilhami dan mana yang tidak, dan kemudian dimasukkan
dalam kanon."
Smith menjelaskan
bahwa "Luther mengusulkan suatu tes yang praktis. Dalam pikirannya ada
perbedaan antara tulisan-tulisan yang mempunyai kekuatan untuk meyakinkan orang
akan pengampunan melalui Kristus dan tulisan-tulisan yang tidak memiliki
kekuatan seperti itu." Luther tentu berdasar pada ajaran bahwa keselamatan
hanya oleh iman. "Luther berpikir bahwa kitab yang secara intensif
mengajarkan ajaran ini
diilhami," jelas Most, ”kalau sebaliknya tidak."
Smith, dalam
analisis lanjutannya tentang dasar-dasar yang digunakan kaum Protestan dalam
menentukan kanon, mencatat rahwa John Calvin, dalam bukunya Institutes,
memberikan suatu tes yang berbeda, "Sabda tidak akan pernah mendapat
penghargaan dalam hati manusia sampai itu ditegaskan oleh kesaksian Roh dari dalam."
Pandangan ini pun - berdasarkan "perasaan-perasaan" subjektif - tidak
berguna, kata Smith, karena mengacu kepada serangan-serangan terhadap Kitab
Suci yang sudah lazim terjadi bahkan pada masa lampau. "Penerapan tes ini
dapat menghilangkan perbedaan yang ada antara tulisan-tulisan yang bersifat
kanonik dan tulisan-tulisan yang tidak bersifat kanonik secara lebih rnenyeluruh
daripada oleh kesimpulan-kesimpulan yang paling radikal dari kritik teks."
Bagaimanapun, banyak bagian dari Kitab Suci kelihatannya tidak memajukan
pikiran, seperti Kitab 1 dan 2 Tawarikh yang juga dikenal dengan Kitab 1 dan 2
Paralipomenon, yang, seperti banyak bagian Kitab Bilangan dan Ulangan, rnembosankan
- bukan gaya tulisan yang meneriakkan "saya diilhami”. Beberapa buku yang
jelas-jelas tidak kanonik dan tidak diilhami, seperti Imitation of Christ karya
Thomas a Kempis, jauh lebih menarik daripada banyak kitab dalam Kitab Suci.
Most menulis,
"profesor smith menunjukkan bahwa bagi seorang Protestan tidak ada cara
yang mudah untuk mengetahui kitab-kitab mana saja yang diilhami. Itu berarti
seorang protestan yang berpikir logis tidak perlu mencari dalam Kitab suci
untuk membuktikan sesuatu; ia tidak mempunyai cara yang pasti untuk mengetahui
kitab-kitab mana saja yang termasuk Kitab suci.”[12]
Salah satu
konsekuensi dari tidak bisa memastikan kanon adalah Kitab suci protestan tidak
lengkap. Di dalamnya tidak terdapat Kitab Tobit, yudit, Kebijaksanaan Salomo, Yesus
bin Sirakh, Barukh, dua Kitab Makabe, Tambahan-tambahan pada Kitab Ester
(10:4-16:24), dan tambahan-tambahan pada Kitab Daniel (3:24-90 dan bab 13 dan
14). Di lingkungan Katolik,
kitab-kitab ini dikenal dengan kitab Deuterokanonik. Kitab-kitab ini merupakan bagian dari Kitab suci
perjanjian Lama, kitab-kitab Proto kanonik. Luther menolak kitab-kitab
Deuterokanonik dan banyak ayat karena bertentangan dengan teori-teori
teologisnya. contoh, dalam kitab 2 Makabe 12:46 dikatakan bahwa ”sungguh suatu
pikiran yang mursid dan saleh untuk berdoa bagi orang yang sudah meninggal,
supaya mereka dilepaskan dari dosa mereka" - mengacu kepada api penyucian.
Bagi mereka, kitab seperti itu harus dihilangkan - tidak sesuai dengan ajaran
para Reformis. (Bahkan Luther agak meremehkan beberapa
kitab Perjanjian Baru, seperti Surat Yudas, tetapi ia tidak bisa memberikan
alasan yang masuk akal untuk menghilangkannya dari kanon).
Biarpun mudah bagi para Reformis mengatakan
bahwa beberapa kitab diilhami dan dengan demikian masuk dalam kanon, sementara
kitab-kitab lainnya tidak diilhami dan tidak masuk dalam kanon, sebenarnya
mereka tidak mempunyai dasar yang kuat untuk membuat keputusan seperti itu. Pada akhirnya, dibutuhkan suatu otoritas yang
tidak bisa salah bila kita mau mengetahui kitab-kitab mana yang termasuk Kitab
Suci dan mana yang tidak. Tanpa otoritas seperti itu, kita terjebak dalam
prasangka kita sendiri, dan kita tidak bisa mengatakan bahwa prasangka kita membawa
kita ke arah yang benar.
Ada dua
keuntungan pendekatan Katolik untuk membuktikan ilham. Pertama, ilham benar-benar terbukti, bukan sekadar
''dirasakan". Kedua,
fakta utama di balik bukti - fakta sebuah Gereja yang tidak dapat salah
mengajar- menuntun seseorang kepada jawaban atas masalah yang mengganggu
sida-sida Etiopia (Kis 8:31): Bagaimana orang mengetahui interpretasi mana 'ang
benar? Gereja yang sama yang membuktikan kebenaran Kitab Suci, yang menetapkan
Kitab suci diilhami, merupakan otoritas yang didirikan Kristus untuk
menginterpretasi firman-Nya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar