Minggu, 12 Juli 2015

Ilham Kitab Suci
(Karl Keating)

Menurut kelompok Reformis, Kitab suci adalah satu-satunya sumber kebenaran iman. Tidak ada otoritas luar yang boleh memberikan penafsiran, dan tidak ada otoritas luar, seperti Gereja, yang ditetapkan Kristus sebagai wasit[1]. Sebagai ahli waris kaum Reformis, kaum Fundamentalis mendasarkan pemikiran dan hidup mereka pada prinsip sola scriptura[2], dan mereka mengemukakan pandangan ini dalam berbagai kesempatan.

Orang mungkin berpikir bahwa mudah bagi kaum Fundamentalis untuk menjelaskan mengapa mereka percaya prinsip ini. Sayangnya, ternyata sukar meminta kaum Fundamentalis menjelaskan mengapa mereka menjadikan Kitab Suci sebagai satu-satunya sumber kebenaran iman. Hal itu menimbulkan pertanyaan mengapa dan dalam arti apa kaum Fundamentalis mengakui Kitab Suci sebagai kitab yang diilhami, karena Kitab Suci bisa dijadikan sebagai sumber kebenaran iman hanya bila pertama-
tama diyakini bahwa Kitab Suci itu diilhami dan karena itu tidak bisa salah.

Hal itu tidak menarik perhatian banyak orang Kristen dewasa ini. Mereka tidak memberikan perhatian yang serius terhadap masalah ini. Sedikit banyak mereka percaya dan menerima Kitab Suci karena mereka hidup dalam suatu lingkungan yang masih dipengaruhi cara berpikir Kristen. Seorang Kristen yang agak acuh tak acuh sekalipun akan berpikir dua kali untuk menjelek-jelekkan atau menolak Kitab Suci. Mengakui Kitab Suci memberi suatu status resmi tertentu kepadanya, meskipun ia tidak bisa menjelaskannya. Mungkin ada yang mengatakan bahwa ia mengakui Kitab Suci diilhami (apa pun artinya itu bagi dia) karena beberapa alasan 'kultural', tetapi tentu itu bukan alasan yang cukup, karena dengan dasar seperti itu, kitab suci lain pun bisa dianggap sebagai kitab yang diilhami.

Juga tidak cukup mengatakan bahwa itu sudah dipercaya oleh keluarga. Mungkin itu cukup bagi orang yang enggan untuk berpikir. Seseorang tidak boleh meremehkan iman sekecil apa pun, sekalipun diiandasi oleh suatu alasan yang sangat lemah. Namun, kebiasaan tidak dapat menjadi alasan seseorang menerima Kitab Suci diilhami.

Beberapa kaum Fundamentalis mengatakan mereka percaya Kitab Suci diilhami karena Kitab Suci "memberikan inspirasi". Tetapi "memberikan inspirasi" memiliki arti ganda. Di satu pihak, bila itu digunakan dalam arti teologis yang sempit, akan memunculkan pertanyaan: Bagaimana kita mengetahui bahwa Kitab Suci diilhami, "ditulis" oleh Allah, tetapi melalui penulis manusia? Bila "memberikan inspirasi" berarti tidak lebih dari "memberi semangat" atau "menggugah" maka orang yang memiliki sedikit rasa puitis akan menganggap karya-karya para penyair juga diilhami.

Bagian-bagian tertentu dari Kitab Suci tidak dapat dikatakan "memberikan inspirasi”, paling tidak dalam pengertian seperti di atas.[3] Bila seseorang menganggap beberapa bagian dari Kitab Suci membosankan, itu tidak berarti dia meremehkan Kitab Suci - memang ada beberapa bagian dalam Kitab Suci sangat membosankan seperti membaca angka-angka statistik - dan ada sedikit yang bisa menggugah emosi.

Jadi, tidak cukup percaya Kitab Suci diilhami hanya karena budaya atau kebiasaan, atau karena itu sebuah buku yang ditulis dengan baik dan membangkitkan emosi. Ada beberapa buku rohani lainnya, dan bahkan beberapa buku sekuler, yang jauh melampaui sebagian besar Kitab Suci.

Bagaimana pandangan Kitab Suci sendiri mengenai ilham? Tidak banyak diiemukan teks-teks yang secara tegas menunjukkan hal itu, dan sebagian besar kitab dalam Perjanjian Lama dan perjanjian Baru sama sekali tidak menyatakan hal itu. Sebenarnya,
telah ada penulis Perjanjian Baru yang menyadari bahwa ia menulis atas dorongan Roh Kudus, kecuali penulis Kitab Wahyu. Lagi pula' sekalipun setiap kitab dalam Kitab Suci diawali dengan pernyataan "kitab ini diilhami", pernyataan seperti itu tidak membuktikan
apapun.Kitab-kitab suci lain pun mengatakan diilhami. Bahkan, tulisan-tulisan Mary Baker Eddy, pendiri christian Science, dianggap diilhami. Pengakuan diilhami saja tidak cukup untuk menempatkan sebuah buku itu dapat dipercaya' Karena belum ada pendapat yang meyakinkan, kaum Fundamentalis kembali pada pandangan bahwa "Roh Kuduslah
yang menyatakan Kitab Suci diilhami", suatu pandangan yang sama dengan pernyataan mereka bahwa Roh Kudus membimbing mereka dalam menafsir teks. Misalnya, penulis buku How Can I understand the Bible?, sebuah buku yang diedarkan oleh Radio
Bible class, menampilkan dua belas cara belajar Kitab suci. Pertama-tama, "mintalah bantuan Roh Kudus. Roh Kudus telah diberikan untuk menerangi Kitab suci dan membuatnya hidup ketika Anda mempelaj arinya. Pasrahlah pada penerangan-Nya'" Bila ini dipahami bahwa setiap orang yang meminta sebuahpenafsiran yang benar akan diberikan oleh Allah- dan persis seperti itulah kaum Fundamentalis memahami cara kerja bantuan Roh Kudus- maka bermacam-macam tafsiran, bahkan di antara kaum Fundamentalis sendiri, akan menghasilkan anggapan yang mengganggu bahwa Roh Kudus tidak berhasil dalam melakukan tugasNya.

Kebanyakan kaum Fundamentalis tidak mengatakan bahwa Roh Kudus telah berbicara langsung kepada mereka' meyakinkan mereka bahwa Kitab suci diilhami. Agaknya, dalam membaca Kitab Suci mereka 'percaya' bahwa itu adalah sabda Allah' mereka
'merasa'bahwa itu diilhami, dan hanya itu - yang sering kali mengurangi penerimaan mereka terhadap Kitab Suci hanya karena budaya atau kebiasaan saja. Pandangan kaum Fundamentalis tidak bisa dipertanggungjawabkan. Tentu ada beberapa orang
Fundamentalis yang mencari argumentasi dengan pertama-tama mendekati Kitab Suci seakan-akan itu sebuah buku biasa yang tidak diilhami, dan kemudian, dalam membacanya, menarik kesimpulan demikian. Sebetulnya, kaum Fundamentalis bertolak
dari fakta ilham - sebagaimana mereka menerima ajaran-ajaran Fundamentalisme lainnya apa adanya, bukan sebagai hasil kesimpulan - dan kemudian mereka menemukan sesuatu dalam Kitab Suci yang kelihatannya mendukung ilham sehingga mengatakan, dengan argumentasi yang berbelit-belit, bahwa Kitab Suci menegaskan sendiri bahwa dirinya diilham.

Orang yang berusaha memahami ilham dengan menggunakan pendekatan Fundamentalis tidak puas karena ia mengetahui ia tidak memiliki dasar yang kuat bagi kepercayaannya. Pandangan Katolik akhirnya menjadi satu-satunya pandangan yang bisa diterima kaum intelektual pada umumnya. Metode orang Katolik untuk mengetahui apakah Kitab Suci diilhami adalah sebagai berikut: Kitab Suci pertama-tama dilihat sebagai salah satu karya
tulis kuno. Jadi, Kitab Suci bukan pertama-tama dilihat sebagai sesuatu yang diilhami. Berdasarkan kritik-kritik teks, kita bisa menarik kesimpulan bahwa teks-teks Kitab Suci jauh lebih akurat daripada teks-teks kuno lainnya.

Frederik Kenyon mencatat sebagai berikut.

Semua karya klasik yang kita miliki bergantung pada manuskrip - manuskrip yang ditulis jauh lebih kemudian dari karangan aslinya. Contoh yang paling tepat adalah penulis
Virgil. Manuskrip Virgil yang pertama yangkita miliki ditulis kurang lebih 350 tahun setelah ia wafat. Bagi penulis-penulis klasik lainnya, jarak waktu antara masa hidup dan kemunculan manuskrip mereka yang pertama malah jauh lebih besar. Livy 500 tahun, Horace 900 trhun, Plato 1300 tahun, dan Euripides 1600 tahun.[4]

Meskipun demikian, tidak ada yang membantah,bahwa kita memiliki salinan-salinan yang sangat akurat dari karya-karya para penulis klasik ini. Kita tidak saja memiliki manuskrip-manuskrip biblis yang jauh lebih tua dari karya-karya para penulis klasik,
tetapi juga memiliki jauh lebih banyak manuskrip. Beberapa di antaranya adalah seluruh kitab dalam Kitab suci, yang lainnya fragmen-fragmen yang berisi beberapa kata saja, tetapi ada ribuan manuskrip dalam bahasa Ibrani, yunani, Latin, Koptik, Siria, serta
bahasa lainnya. Ini berarti kita bisa memastikan bahwa kita rnemiliki teks yang sangat akurat.
Selanjutnya, kita memperhatikan apa yang dikatakan Kitab Suci, yang dianggap hanya sebagai sebuah buku sejarah, kepada kita, khususnya Injil. Kita melihat cerita tentang hidup, wafat, dan kebangkitan yesus. Berdasarkan apa yang terdapat dalam Injil,
dan apa yang kita temukan dalam tulisan-tulisan non biblis dari abad-abad pertama, serta apa yang kita ketahui mengenai kodrat manusia (dan apa yang dapat kita ketahui, dari teologi, tentang kodrat ilahi), kita menyimpulkan entahkah Yesus itu Allah sebagaimana dinyatakan-Nya atau orang gila. (Satu hal yang kita ketahui bahwa Ia tidak mungkin hanya seorang manusia yang baik yang bukan Allah, sebab tidak ada seorang manusia yang baik dapat membuat pernyataan seperti yang dilakukan-Nya.)

Kita bisa menolak pandangan bahwa Ia orang gila, bukan saja berdasarkan apa yang Ia katakan - sebab tidak ada orang gila yang pernah berbicara seperti Dia; juga tidak ada orang sehat yang membuat hal serupa - tetapi juga dari apa yang telah dilakukan para pengikut-Nya setelah kematian-Nya. Ada yang menganggap makam kosong sebagai cerita bohong, meskipun tidak ada orang yang rela mati demi suatu kebohongan, atau demi sesuatu yang tidak membawa keuntungan. Dari argumentasi-argumentasi inikita harus menyimpulkan bahwa yesus benar-benar bangkit dari kematian dan karena itu, Ia adalah Allah dan, sebagai Allah, Ia bersungguh-sungguh dengan apa yang dikatakan-Nya dan melakukan apa yang dikatakan-Nya

Satu hal yang Ia katakan dan dilakukan-Nya adalah mendirikan Gereja. Dari Kitab Suci (yang dilihat hanya sebagai buku sejarah dan bukan sebagai buku yang diilhami) dan karya-karya kuno lainnya, kita mengetahui bahwa Kristus mendirikan sebuah Gereja dengan dasar-dasar yang kita temukan dalam Gereja Katolik saat ini - kepausan, hierarki, imamat, sakramen-sakramen, kuasa mengajar dan, konsekuensinya, infalibilitas (tidak dapat salah). untuk melakukan apayangtelah Ia perintahkan, Gereja Kristus harus memiliki infalibilitas

Kita telah menggunakan materi sejarah murni dan menyimpulkan bahwa ada sebuah Gereja, yakni Gereja Katolik, yang mendapat perlindungan ilahi agar tidak salah mengajar. Kini kita sampai pada bagian akhir argumentasi kita. Gereja mengajarkan kepada kita bahwa Kitab Suci diilhami, dan kita mengakui ajaran Gereja itu benar karena Gereja tidak dapat salah mengajar. Baru setelah dikatakan oleh suatu otoritas yang diakui
sah (yakni suatu otoritas yang didirikan Allah untuk menjamin kebenaran soal iman) bahwa Kitab Suci diithami, kita mulai mengakui dan menggunakannya sebagai sebuah kitab yang diilhami.

Arnold Lunn menuliskannya dalam sebuah surat kepada C.E.M Joad pada tahun 1932.

Kini kita mendekati Kitab Suci dan kita mendekatinya dengan semangat yang sama ketika mendekati dokumen-dokumen biasa lainnya. Kta tidak percaya Ktab Suci hanya karena itu adalah Kitab Suci, tetapi karena kita yakin akan kebenarannya melalui kesimpulan-kesimpulan rasional sama seperti kesimpulan-kesimpulan yang meyakinkan kita akan fakta-fakta historis lainnya. Misalnya, kita tidak menerima fakta bahwa Kristus bangkit dari kematian hanya karena kebangkitan itu diceritakan dalam injil; kita menerima kebangkitan karena, dari semua teori yang telah dikemukakan untuk menjelaskan asal-usul Kekristenan, satu- satunya teori yang sesuai dengan semua fakta adalah teori bahwa Yesus dari Nazaret menyatakan diri sebagai Allah dan membuktikan pernyataan-Nya itu dengan bangkit dari kematian .... Kemudian, orang-orang Katolik Roma menegaskan bukti dari Ktab Suci, yang masih dianggapnya sebagai dokumen biasa, bahwa Kristus bermaksud mendirikan sebuah Gereja yang tidak dapat salah mengajar. Manakah Gereja yang dimaksud? Orang Katolik percaya bahwa Gereja Katolik Roma sendiri memiliki semua " Catatan" yang membuat kita bisa membedakan antara Gereja yang didirikan Kristus dan lawan-lawan bidaahnya. Orang Katolik perlu membuktikan dengan argumentasi yang kuat bahwa Kristus adalah Allah, bahwa Kristus telah mendirikan Gereja yang tidak bisa salah mengajar, dan bahwa Gereja Katolik
Roma adalah Gereja yang dimaksudkan. Setelah sedemikian
jauh menggunakan akal budi tanpa bantuan otoritas rasanya bukan sesuatu yang irasional mempercayakan kepada otoritas, yang mandatnya telah terbukti secara rasional, untuk menafsirkan teks-teks yang sulit dalam Kitab Suci.[5]

Ingat bahwa ini bukanlah sebuah argumen yang berbelit-belit. Kita tidak mendasarkan ilham Kitab Suci pada infalibilitas Gereja dan pada kata-kata Kitab Suci.

Argumentasi kita bersifat spiral. Pada tahap pertama kita menunjukkan kebenaran Kitab suci sebagai fakta sejarah. Dari situ kita simpulkan bahwa Gereja yang tidak dapat salah mengajar itu didirikan. Lalu, kita menggunakan ajaran Gereja yang tidak bisa salah mengajar itu untuk mengatakan bahwa Kitab suci diilhami. Dari situ muncul sebuah dalil bahwa tanpa adanya Gereja, kita tidak dapat mengatakan Kitab Suci diilhami. Santo Agustinus mengatakan, "Saya belum tentu percaya pada Injil jika otoritas Gereja Katolik tidak mendorong saya untuk berbuat demikian."[6]

Jelas, apa yang baru saja diuraikan bukanlah semacam persiapan mental yang harus dilalui sebelum mempercayai Kitab suci. Namun, itu adalah satu-satunya cara yang masuk akal untuk mempercayai Kitab suci. Cara-cara lain lebih rendah mutunya - mungkin secara psikologis memadai, tetapi dari segi kualitas sebenarnya tidak demikian. Dalam matematika kita menerima "kebenaran" satu ditambah satu sama dengan dua, dan dua bila ditambahkan pada bilangan buiat lain akan menghasilkan bilangan bulat yang lebih tinggi. Kebenaran-kebenaran ini kelihatannya sangat mendasar bagi kita dan kita puas menerima hal-hal semacam itu begitu saja, tetapi murid-murid matematika harus mengikuti rangkaian pelajaran yang membahas kebenaran- kebenaran yang "jelas" seperti itu. Kaum Fundamentalis benar mempercayai bahwa Kitab Suci dilhami, namun alasan mereka tidak memadai, karena pengetahuan tentang ilham Kitab Suci hanya dapat didasarkan pada suatu otoritas yang didirikan Allah untuk mengajarkan kepada kita bahwa Kitab suci itu diilhami, dan otoritas itu adalah Gereja.

Di sini muncul suatu persoalan yang lebih serius. Bagi beberapa orang, rupanya ada sedikit perbedaan mengapa seseorang percaya bahwa Kitab suci itu diilhami. Namun, alasan mendasar mengapa seseorang percaya pada ilham mempengaruhi secara langsung cara dia menginterpretasi Kitab suci. Orang Katolik percaya bahwa Kitab Suci diilhami karena Gereja mengajarkan demikian - mengatakannya secara tegas - dan Gereja yang sama mempunyai otoritas untuk menginterpretasi teks yang diilhami. Kaum Fundamentalis percaya pada ilham, sekalipun dengan dasar yang kurang kuat, dan mereka tidak mempunyai otoritas lain untuk menginterpretasi teks selain mereka sendiri. Dalam suatu tulisan tentang ilham yang dipublikasikan tahun 1884, Newman mengatakan sebagai berikut.

Tentu, jika wahyu-wahyu dan ajaran-ajaran dalam Kitab Suci dialamatkan kepada kita secara pribadi maka kehadiran seorang hakim formal dan orang yang menjelaskan kata-katanya di antara kita sangat penting. Tidak masuk akal menganggap bahwa sebuah buku yang demikian kompleks, tidak sistematis, sebagiannya kabur, hasil dari banyak pemikiran, zaman, dan tempat, diberikan dari atas kepada kita tanpa jaminan dari sebuah otoritas; seolah-olah itu, dari kodratnya, bisa menginterpretasi dirinya sendiri. Keterilhamannya memberikan jaminan atas kebenarannya, bukan atas interpretasinya. Bagaimana para pembaca pribadi dapat membedakan dengan baik mana yangbersifat didaktis dan mana yang bersifat sejarah, mana yang fakta dan mana yang khayalan, mana perumpamaan dan mana yang sebenarnya, mana ungkapan/idiom dan mana tata bahasa, mana yang diucapkan secara formal dan mana yang terjadi secara kebetulan, mana kewajiban yang bersifat sesaat dan mana yang tetap? Hal tersebut merupakan harapan alamiah kita, dan dibenarkan oleh peristiwa-peristiwa dalam tiga abad terakhir, di banyak negara di mana penilaian pribadi terhadap teks Kitab Suci telah tersebar luas. Anugerah ilham memerlukan anugerah tak dapat salah mengajar sebagai pelengkapny a.[7]

J. Derek Holmes menekankan:

Dalam semua argumentasinya, Newman tidak pernah mengabaikan hal pokok bahwa karena tulisan-tulisan itu tidak teratur, tidak konsisten, dan tidak lengkap maka sangat tidak mungkin ia memuat seluruh sabda Allah yang diwahyukan. Kitab Suci tidak memuat sejarah dunia yang lengkap, dan tidak ada alasan, ia mesti memuat cerita atau gambaran yang lengkap tentang kebenaran religius. Tidak masuk aka menuntut suatu landasan biblis yang memadai bagi ajaran-ajaran Gereja jika pikiran yang didapatkan dari Ktab suci adalah pikiran dari para penulis yang menerima kebenaran- kebenaran yang penting dan suci sebagaimana adanya dan yang tidak memberikan laporan yang lengkap atau penuh tentang arti wahyu. Tulisan-tulisan yang tidak merefleksikan semua kepercayaan dan kejadian yang dialami penulis sering dimasukkan tanpa komentar atau implikasi moral.[8]

Pemahaman kaum Fundamentalis tentang ilham berpengaruh secara langsung terhadap cara mereka menafsirkan Kitab suci serta ajaran-ajaran yang mereka temukan di dalamnya. Banyak - bukan semua mereka yang menulis risalah-risalah, tetapi beberapa dari mereka dan tentu saja banyak di gereja - yang menyetujui teori pendiktean tentang ilham. Ini patut disayangkan, karena "teori pendiktean' mungkin kelihatannya sebagai sebuah cerita pengalaman para nabi, tetapi itu secara psikologis tidak masuk akal ketika diterapkan pada santo Lukas yang menulis prolognya atau Santo Paulus yang menulis surat kepada Filemon."[9] Satu contoh persoalan yang dihadapi kaum Fundamentalis sehubungan dengan teori pendiktean atau praktik-praktik serupa adalah ketika berhadapan dengan ayat-ayat seperti lKor 1:14-16. Paulus menulis sebagai berikut, "Aku mengucap syukur bahwa tidak ada seorang pun juga di antara kamu yang aku baptis selain Krispus dan Gayus, sehingga tidak ada orang yang dapat mengatakan bahwa kamu dibaptis dalam namaku. Juga keluarga Stefanus aku yang membaptisnya. Kecuali mereka aku tidak tahu, entahkah ada lagi orang yang aku baptis." Menurut teori pendiktean, karena Paulus hanya menulis apa yang dibisikkan Tuhan di telinganya, orang berkesimpulan bahwa Allah kadang-kadang lupa siapa saja yang dibaptis Paulus. Masih ada banyak contoh lain yang menunjukkan bahwa ilham jauh lebih susah dipahami daripada yang diperkirakan orang.

Persoalan lain adalah bagaimana seorang Fundamentalis memutuskan bila terdapat banyak interpretasi terhadap ayat tertentu, dan hanya satu yang dapat dibenarkan? Gereja Katolik bersikap diam tentang mana interpretasi yang tepat atas banyak ayat Kitab Suci; para pembaca boleh memilih salah satu dari sekian banyak pemahaman.

Sebagai contoh kita ambil petualangan Nabi Yunus di laut. Menurut Ronald Knox, "Tidak seorang pun pembela Kitab Suci pernah menganggap hal ini sebagai suatu peristiwa biasa. Jika peristiwa itu terjadi, itu tentu sebuah mukjizat; dan bagi saya tidak lebih menakjubkan daripada kebangkitan Lazarus yang sungguh dipercaya oleh orang Katolik. Tentu yang membuat orang mempertanyakan cerita tentang Yunus adalah unsur aneh yang ada di dalamnya." [10] Sebenarnya, apa yang terjadi pada Yunus dapat dilihat dalam tiga cara, salah satunya percaya bahwa tidak terjadi mukjizat sama sekali.

Interpretasi yang sangat umum dewasa ini, dan diterima olehpara ekseget ortodoks, adalah bahwa cerita tentang nabi yang ditelan dan kemudian dimuntahkan kembali oleh seekor "ikan besar" hanyalah sebuah fiksi didaktik, sebuah cerita dongeng yang diceritakan untuk menyampaikan suatu pesan religius. Orang Katolik bebas untuk menerima pandangan ini atau pandangan yang lebih harfiah, tetapi kita akan jarang mendapati seorang Fundamentalis yang menganggap kisah Yunus sebagai alegori atau sejenisnya, walaupun ia sebenarnya tidak mempunya otoritas untuk memilih satu dari banyak interpretasi.

Interpretasi yang sungguh harfiah tentang apa yang terjadi dengan Yunus muncul daiam dua bentuk. Bentuk pertama, berdasarkan fakta bahwa seseorang rupanya terah ditelan seekor ikan paus dan masih bertahan hidup. pada tahun 1891, seorang pelaut bernama James Bartley, dari kapal star of the East, dilaporkan hilang. Ia diperkirakan tenggeram. pada hari berikutnya, awak kapal menangkap seekor ikan paus dengan panjang delapan puluh kaki. Ketika awak kapal murai memotong ikan itu, Bartlei ditemukan masih hidup di dalamnya." Jika keberadaan Yunus selama tiga hari dalam perut ikan paus dipandang sama seperti keberadaan Kristus selama tiga hari di dalam kubur maka sangat mungkin bahwa Yunus dimuntahkan keluar oleh ikan besar itu persis seperti apa yang disampaikan dalam cerita tentangnya. Ini merupakan penjelasan yang lazim tentang peristiwa itu.

Interpretasi harfiah rainnya ialah bahwa Yunus benar mengalami peristiwa itu, tetapi bertahan hidup karena suatu keajaiban yang meyakinkan. Ada beberapa kemungkinan keajaiban yang bisa terjadi, seperti Yunus yang mati suri atau seekor ikan yang mempunyai kantong udara yang sangat besar dan cairan lambung yang sangat encer.

Persoalan yang juga berhubungan dengan ilham ialah persoalan kanon Kitab Suci. Kitab-kitab mana saja yang termasuk Kitab Suci? Orang Katolik bisa merujuk pada keputusan-keputusan Gereja, yang  dirumuskan dengan sangat jelas di Trente dan dalam konsili Hippo dan Kartago pada abad keempat. Konsili- konsili ini, berdasarkan otoritas Gereja yang tidak bisa salah mengajar, mengeluarkan daftar kitab yang diterima sebagai yang diilhami. Kitab-kitab yang dilhami itu disatukan menjadi Kitab Suci. Inilah cara orang Katolik menjawab pertanyaan tadi. Bagaimana dengan kaum Fundamentalis?

William G. Most berbicara tentang komentar-komentar yang agak mengejutkan dari Gerald Birney Smith, profesor di Universitas Chicago dan pembicara dalam Kongres Baptis, pada 1910. Most mengatakan, "Keterusterangan Smith sungguh luar biasa. Ia meninjau kembali cara-cara ia menentukan kitab-kitab mana yang diilhami dan mana yang tidak, dan kemudian dimasukkan dalam kanon."

Smith menjelaskan bahwa "Luther mengusulkan suatu tes yang praktis. Dalam pikirannya ada perbedaan antara tulisan-tulisan yang mempunyai kekuatan untuk meyakinkan orang akan pengampunan melalui Kristus dan tulisan-tulisan yang tidak memiliki kekuatan seperti itu." Luther tentu berdasar pada ajaran bahwa keselamatan hanya oleh iman. "Luther berpikir bahwa kitab yang secara intensif mengajarkan ajaran ini diilhami," jelas Most, ”kalau sebaliknya tidak."

Smith, dalam analisis lanjutannya tentang dasar-dasar yang digunakan kaum Protestan dalam menentukan kanon, mencatat rahwa John Calvin, dalam bukunya Institutes, memberikan suatu tes yang berbeda, "Sabda tidak akan pernah mendapat penghargaan dalam hati manusia sampai itu ditegaskan oleh kesaksian Roh dari dalam." Pandangan ini pun - berdasarkan "perasaan-perasaan" subjektif - tidak berguna, kata Smith, karena mengacu kepada serangan-serangan terhadap Kitab Suci yang sudah lazim terjadi bahkan pada masa lampau. "Penerapan tes ini dapat menghilangkan perbedaan yang ada antara tulisan-tulisan yang bersifat kanonik dan tulisan-tulisan yang tidak bersifat kanonik secara lebih rnenyeluruh daripada oleh kesimpulan-kesimpulan yang paling radikal dari kritik teks." Bagaimanapun, banyak bagian dari Kitab Suci kelihatannya tidak memajukan pikiran, seperti Kitab 1 dan 2 Tawarikh yang juga dikenal dengan Kitab 1 dan 2 Paralipomenon, yang, seperti banyak bagian Kitab Bilangan dan Ulangan, rnembosankan - bukan gaya tulisan yang meneriakkan "saya diilhami”. Beberapa buku yang jelas-jelas tidak kanonik dan tidak diilhami, seperti Imitation of Christ karya Thomas a Kempis, jauh lebih menarik daripada banyak kitab dalam Kitab Suci.

Most menulis, "profesor smith menunjukkan bahwa bagi seorang Protestan tidak ada cara yang mudah untuk mengetahui kitab-kitab mana saja yang diilhami. Itu berarti seorang protestan yang berpikir logis tidak perlu mencari dalam Kitab suci untuk membuktikan sesuatu; ia tidak mempunyai cara yang pasti untuk mengetahui kitab-kitab mana saja yang termasuk Kitab suci.”[12]

Salah satu konsekuensi dari tidak bisa memastikan kanon adalah Kitab suci protestan tidak lengkap. Di dalamnya tidak terdapat Kitab Tobit, yudit, Kebijaksanaan Salomo, Yesus bin Sirakh, Barukh, dua Kitab Makabe, Tambahan-tambahan pada Kitab Ester (10:4-16:24), dan tambahan-tambahan pada Kitab Daniel (3:24-90 dan bab 13 dan 14). Di lingkungan Katolik, kitab-kitab ini dikenal dengan kitab Deuterokanonik. Kitab-kitab ini merupakan bagian dari Kitab suci perjanjian Lama, kitab-kitab Proto kanonik. Luther menolak kitab-kitab Deuterokanonik dan banyak ayat karena bertentangan dengan teori-teori teologisnya. contoh, dalam kitab 2 Makabe 12:46 dikatakan bahwa ”sungguh suatu pikiran yang mursid dan saleh untuk berdoa bagi orang yang sudah meninggal, supaya mereka dilepaskan dari dosa mereka" - mengacu kepada api penyucian. Bagi mereka, kitab seperti itu harus dihilangkan - tidak sesuai dengan ajaran para Reformis. (Bahkan Luther agak meremehkan beberapa kitab Perjanjian Baru, seperti Surat Yudas, tetapi ia tidak bisa memberikan alasan yang masuk akal untuk menghilangkannya dari kanon).

Biarpun mudah bagi para Reformis mengatakan bahwa beberapa kitab diilhami dan dengan demikian masuk dalam kanon, sementara kitab-kitab lainnya tidak diilhami dan tidak masuk dalam kanon, sebenarnya mereka tidak mempunyai dasar yang kuat untuk membuat keputusan seperti itu. Pada akhirnya, dibutuhkan suatu otoritas yang tidak bisa salah bila kita mau mengetahui kitab-kitab mana yang termasuk Kitab Suci dan mana yang tidak. Tanpa otoritas seperti itu, kita terjebak dalam prasangka kita sendiri, dan kita tidak bisa mengatakan bahwa prasangka kita membawa kita ke arah yang benar.


Ada dua keuntungan pendekatan Katolik untuk membuktikan ilham. Pertama, ilham benar-benar terbukti, bukan sekadar ''dirasakan". Kedua, fakta utama di balik bukti - fakta sebuah Gereja yang tidak dapat salah mengajar- menuntun seseorang kepada jawaban atas masalah yang mengganggu sida-sida Etiopia (Kis 8:31): Bagaimana orang mengetahui interpretasi mana 'ang benar? Gereja yang sama yang membuktikan kebenaran Kitab Suci, yang menetapkan Kitab suci diilhami, merupakan otoritas yang didirikan Kristus untuk menginterpretasi firman-Nya.